Wall Street DIbuka Merah, Nasdaq Anjlok 200 Poin Lebih

  • Whatsapp

Jakarta, Sentra Berita Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) tergelincir ke zona merah pada pembukaan perdagangan Selasa (28/9/2021), menyusul lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang menekan saham-saham teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka drop 100 poin (-0,3%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 30 menit menjadi 289,4 poin (-0,83%) ke 34.579,96. Namun, S&P 500 surut 53,95 poin (-1,21%) ke 4.389,16 dan Nasdaq drop 260,2 poin (1,74%) ke 14.709,81.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang jadi acuan pasar menguat ke level 1,558% karena investor bertaruh bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan melakukan tapering (pengurangan pembelian obligasi di pasar) menyusul lonjakan inflasi.

Level tertinggi sejak Juni itu dicapai setelah The Fed mengindikasikan bahwa pembelian obligasi senilai US$ 120 miliar per bulan akan dikurangi “segera.” Yield tersebut sempat melemah pada Agustus ke level 1,13%.

Saham teknologi anjlok di pembukaan karena kenaikan imbal hasil akan memicu lonjakan beban pembiayaan obligasi mereka, sehingga saham mereka menjadi kurang menarik. Imbal hasil tinggi juga akan membatasi pertumbuhan mereka.

Saham Facebook, Amazon, Apple, Alphabet (induk usaha Google) anjlok lebih dari 1% di pembukaan. Saham produsen chip seperti Nvidia longsor 2%,. Sebaliknya, saham energi seperti Exxon melonjak setelah harga minyak jenis West Texas Intermedate (WTI) melampaui level US$ 76/barel.

“Kami memperkirakan kenaikan imbal hasil akan menguntungkan saham siklikal seperti keuangan dan energi ketimbang saham pertumbuhan seperti teknologi, yang mengalami tekanan lebih besar di prospek arus kas ke depan ketika imbal hasil meninggi,” tutur Mark Haefele, Direktur Investasi UBS Global Wealth Management, seperti dikutip Sentra Berita International.

Pasar juga akan memantau pidato bos The Fed Jerome Powell di depan Komite Perbankan Senat pada Selasa. Dalam teks pidato yang sudah disiapkan, Powell mengatakan bahwa inflasi bisa bertahan lebih lama dari ekspektasi.

“Seiring dengan pembukaan kembali ekonomi dan menguatnya lagi belanja, kami melihat tekanan ke atas pada harga khususnya terkait dengan sumbatan suplai di beberapa sektor,” tuturnya.

Pekan lalu bank sentral mengindikasikan kesiapannya untuk memulai tapering. The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di level sekarang dan membuka peluang sekali kenaikan pada tahun 2022, diikuti tiga kali kenaikan pada 2023 dan 2024.

Sepanjang September, Dow Jones anjlok 1,4%, sedangkan S&P 500 drop 1,8% dan Nasdaq drop 1,9%. Namun, sepanjang tahun berjalan, Dow Jones masih terhitung melesat 14%, demikian juga S&P 500 dan Nasdaq yang juga masih terhitung menguat.

TIM RISET Sentra Berita INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *