Viral Satpol PP Pukul Wanita, Begini Pandangan Islam dalam Menyampaikan Nasihat ke Sesama

  • Whatsapp

SentraBerita.com Menyampaikan nasihat kepada orang lain atau sesama umat manusia adalah suatu perbuatan yang baik. Karena merupakan kewajiban bagi kita untuk saling menasihati dalam kebenaran. Namun sesuatu yang baik juga harus ditempuh dengan cara yang baik pula agar tidak kontraproduktif. 

Tak jarang, beberapa orang yang dinasihati justru tidak terima karena merasa tersinggung atau dipermalukan di depan orang banyak. Fenomena seperti ini tidak jarang terjadi di masyarakat disebabkan nasihat disampaikan dengan cara yang tidak baik. 

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah video viral yang memperilihatkan penertiban pelanggar PPKM Darurat di beberapa daerah. Salah satunya adalah video yang memperlihatkan tindakan keras aparat Satpol PP ketika melakukan penertiban terhadap sebuah warung makan di Kabupaten Gowa, Sulawei Selatan.

Diunggah oleh seorang warganet @mazzini_gsp, video tersebut memperlihatkan sosok petugas Satpol PP yang sedang menginterogasi seorang wanita yang sedang duduk. Tak lama, Satpol PP itu memukul wanita tersebut.

Sehubungan dengan hal itu, agama Islam menganjurkan kepada umatnya untuk menggunakan cara yang bijak dalam menyampaikan nasehat kepada orang lain.

Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad memberikan petunjuk cara bijak menasihati sebagaimana termaktub dalam kitab beliau yang berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah (Dar Al-Hawi, 1994, hal. 146) sebagai berikut:

وعليك إذا أردت أن تنصح إنساناً في أمر بلغك عنه بالخلوة به والتلطف له في القول له ولا تعدل إلى التصريح مع إمكان التفهيم بالتلميح فإن قال لك من بلغك عني هذا؟ فلا تخبره كي لا تثير العداوة بينه وبينه، ثم إن قبل منك فاحمد الله واشكر له وإن لم يقبل فارجع على نفسك باللوم وقل لها يا نفس السوء من قبلك أتيت، فانظري لعلك لم تقومي بشرائط النصح وآدابه

Artinya: “Apabila menasihati orang lain mengenai sesuatu (yang kurang baik) yang sampai beritanya kepada Anda, hendaknya Anda melakukannya di tempat yang tidak ada orang lain bersamanya dan dengan kata-kata yang lembut. Sebaiknya jangan membicarakannya secara terus terang bila cukup dimengerti dengan cara tidak langsung (dengan ucapan samar-samar). Sekiranya ia bertanya siapa yang menyampaikan berita itu pada Anda, jangan memberitahukannya agar tidak menimbulkan permusuhan antara keduanya. Kemudian, jika ia dapat menerima nasihat Anda itu, ucapkan puji syukur kepada Allah; tetapi jika ia tidak menerimanya dengan baik, tunjukkanlah kecaman Anda kepada diri Anda sendiri. Katakan pada diri sendiri, “Wahai nafsu yang membisikkan kejahatan, patutlah engkau menerima balasanmu sebab engkau tidak melaksanakan persyaratan-persyaratan serta adab-adab memberi nasihat.” 

Dari kutipan di atas, dapat disimpulkan jika seseorang tidak menerima nasihat kita dengan baik dan justru menunjukkan kecaman kepada diri kita, lantas kita dianjurkan untuk tidak memarahinya. Katakanlah persoalan tersebut ada pada diri dan kita tidak mampu menyampaikan nasihat dengan baik sehingga ditolak.

Sebagaimana nasihat Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad. Intinya adalah nasihat sebagai amaliah yang baik harus disampaikan dengan cara yang baik agar tujuan baiknya dapat tercapai dengan baik sehingga tidak malah kontraproduktif yang justru bisa menimbulkan permusuhan di antara orang yang menasihati dengan yang orang dinasihati.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *