Tidak Semua Ulama Mengharamkan Mengucap Salam Kepada Non-Muslim, Begini Faktanya

  • Whatsapp

SentraBerita.com Rasulullah Saw dalam sebuah haditsnya menjelaskan akan pentingnya membaca salawat. Bahkan, umat beliau, sebagaimana menurut beliau langsung, tidak akan masuk surga selama belum membaca salawat kepadanya.

Rasulullah Saw bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا أولا أدلكم على شئ إذا فعلتموه تحاببتم ؟ أفشوا السلام بينكم 

Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai. Mau kah kalian aku tunjuki sebuah amal yang bila dilaksanakan membuat kalian saling mencintai? Tebarkanlah salam,’” (HR Muslim).

Lantas bagaimana jika mengucapkan salam namun ditujukan kepada non-Muslim? Apakah semua ulama mengharamkan atau ada sebagian ulama yang tidak mengharamkan?

Ulama Mazhab Syafi‘i berbeda pendapat soal ini. Masalah ini dibahas oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Azkar yang mengangkat perbedaan pandangan ulama tersebut. Ini sebagaimana termaktub dalam Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, halaman 256;

وأما أهل الذمة فاختلف أصحابنا فيهم، فقطع الأكثرون بأنه لا يجوز ابتداؤهم بالسلام، وقال آخرون ليس هو بحرام، بل هو مكروه، فإن سلموا هم على مسلم قال في الرد وعليكم، ولا يزيد على هذا 

Artinya: “Adapun perihal non-Muslim, ulama kami berbeda pendapat. Mayoritas ulama kami memutuskan bahwa memulai salam kepada non-Muslim tidak boleh. Tetapi sebagian ulama menyatakan hal itu tidak haram, tetapi makruh. Tetapi ketika mereka memulai salam kepada Muslim, maka cukup dijawab ‘Wa ‘alaikum’ dan tidak lebih dari itu.”

Dari keterangan di atas jelas bahwa ada sebagian ulama Syafi’iyah yang tidak mengharamkan seorang Muslim mengucapkan salam kepada non-Muslim. Tetapi menganggapnya makruh.

Adapun jika menjawab salam non-Muslim, sebagai bentuk penghormatan, maka hendaknya kita menjawab, bisa dengan kalimat “wa’alaikum”, atau dengan kalimat-kalimat alternatif lainnya, sebagaimana disebutkan Imam An-Nawawi, dalam kitab yang sama, halaman 291;

قال أبو سعد لو أراد تحية ذمي، فعلها بغير السلام، بأن يقول هداك الله أو أنعم الله صباحك. قلت هذا الذي قاله أبو سعد لا بأس به إذا احتاج إليه، فيقول صبحت بالخير أو السعادة أو بالعافية أو صبحك الله بالسرور أو بالسعادة والنعمة أو بالمسرة أو ما أشبه ذلك. وأما إذا لم يحتج إليه فالاختيار أن لا يقول شيئا 

Artinya: “Abu Said berkata, kalau seorang Muslim ingin menghormati non-Muslim, maka ia dapat menghormatinya dengan kalimat selain salam, yaitu dengan kalimat ‘hadākallāhu (semoga Allah memberi petunjuk padamu)’, ‘An‘amallāhu shabāhaka (semoga Allah membuat pagimu indah).’ Menurut saya (kata Imam An-Nawawi), pendapat Abu Said itu tidak masalah jika ada keperluan di mana seseorang menjawab, ‘Semoga pagimu ini baik, bahagia, atau sehat’, ‘Semoga Allah membuat pagimu bahagia, gembira, dalam nikmat, dalam kesenangan, atau serupa itu.’ Tetapi jika tidak diperlukan, maka sebaiknya tidak menjawab apa pun.”

Wallahu A’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *