Tidak Hanya di Film Saja, Inilah Kisah 4 Putri Tidur di Dunia Nyata – SentraBerita.com

  • Whatsapp

Mungkin kamu mengira jika kisah putri tidur hanya ada di dalam film saja. Kisah di mana seorang putri tertidur dalam waktu yang sangat panjang. Namun ternyata kisah serupa juga pernah terjadi dan bisa kita jumpai di dunia nyata lho. Tidak hanya terjadi di luar negeri saja, kisah putri tidur ini pun bisa kamu jumpai di Indonesia.

Tertidur dalam jangka waktu yang lama bukanlah sebuah anugerah, melainkan gejala sebuah penyakit yang biasa disebut sindrom putri tidur. Seseorang yang terkena sindrom putri tidur akan tertidur terus, hingga ia tersadar kembali. Nah pasti kamu penasaran kan, dengan kisah putri tidur di dunia nyata? Simak saja yuk ulasan lengkapnya di bawah ini.

Echa, si putri tidur asal Kalimantan Selatan

Siti Raisa Miranda atau biasa disapa Echa (16) mengalami sindrom putri tidur setelah terlelap tidur selama 9 hari. Gadis remaja asal Banjarmasin ini sempat terbangun  sebentar. Sembari menonton tv, Echa sempat mengobrol sebentar bersama sang ayah di kamar tempat Echa dirawat. Anehnya ia kembali tertidur setelah Echa meminta ayahnya mematikan tv.

Echa sempat terbangun, lalu ia tertidur lagi [sumber gambar]

Penyebabnya belum diketahui pasti. Selama menjalani perawatan di RSUD dr Ansari Saleh Banjarmasin, para dokter spesialis masih terus melakukan diagnosis untuk mengetahui penyakit apa yang diderita Echa. Kabar baiknya lagi, seluruh biaya perawatan ditanggung oleh Pemprov Kalsel, sehingga mengurangi beban biaya perawatan kedua orang tuanya.

Tertidur selama 16 bulan, penderitaan Rau berakhir

Satu lagi kisah penderita sindrom putri tidur dialami oleh Rau Suriya Dhanefs (2). Awalnya, Rau mengalami kedinginan pada tubuhnya saat berusia delapan bulan. Wajah Rau dan juga kepalanya memerah, lalu pembuluh darah di bagian wajahnya juga membiru. Rau pun dibawa dan diperiksa ke dokter spesialis anak di Pamekasan.

Bayi Rau terkena sindrom putri tidur sejak usia 8 bulan [sumber gambar]

Pada saat dirawat di rumah sakit, Rau sudah mulai menunjukkan gejala sindrom putri tidur, karena ia terus saja tertidur. Atas saran dokter, Rau harus dirujuk ke rumah sakit swasta di Surabaya. Setelah menjalani perawatan selama dua bulan di rumah sakit swasta, mata Rau masih tetap terpejam. Hingga akhirnya, Rau harus dioperasi karena mengalami gangguan pada paru-parunya. Namun takdir berkata lain, penderitaan Rau justru berakhir di meja operasi. Rau pun akhirnya meninggal.

Selama 5 tahun, Beth tertidur selama 22 jam dalam sehari

Beth Goodier diketahui menderita sindrom Kleine-Levin Syndrom (KLS) atau sindrom putri tidur. Pada mulanya, gadis asal Inggris tersebut mengalami kelelahan yang teramat parah. Tiba-tiba ia terjatuh di atas sofa dan langsung tertidur nyenyak. Beth pun sangat sulit untuk dibangunkan dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur.

Beth Goodier asal Inggris yang tertidur hingga 22 jam sehari [sumber gambar]

Dalam sehari, Beth bisa tidur selama 22 jam. Ia hanya akan bangun untuk ke toilet, makan atau minum, tapi dalam keadaan tertidur. Lima tahun telah berlalu, kini Beth berusia 22 tahun. Seharusnya ia telah lulus kuliah bersama teman-temannya. Namun Beth tidak menyadari jika ia telah tertidur lama dan tidak berbuat apa-apa. Ibunya pun merasakan kesedihan yang sama dengan yang dirasakan oleh Beth.

Jade, gadis yang tertidur hingga belasan jam dalam sehari

Lain lagi dengan kisah yang dialami oleh Jade Fraizer (11) asal Amerika Serikat ini. Gadis ini mengalami Kleine-Levin Syndrome dan akan tidur hingga 16 jam dalam sehari. Awalnya Jade sering tidur malam dengan waktu yang cukup lama. Pada saat makan malam pun ia akan tertidur. Ketika merasa sangat letih, ia juga akan tidur di mana pun ia berada.  Tidak peduli di sekolah atau saat olah raga sekalipun. Ia juga jadi lebih mudah agresif jika keinginannya untuk tidur tidak bisa dipenuhi.

Jade Fraizer bisa tertidur belasan jam setiap hari [sumber gambar]

Jade mengalami salah satu sindrom putri tidur yang terbilang cukup langka. Sindrom ini diketahui menyerang para remaja, tapi bisa juga menyerang orang dewasa maupun anak-anak. Penderita sindrom ini bisa saja terbangun, tapi hanya untuk makan atau mandi saja. Seseorang yang mengalami sindrom ini, biasanya akan berlangsung selama beberapa hari hingga berbulan-bulan ketika sedang kambuh.

Tidak menyangka ya, bisa separah itu. Seperti dilansir dari health.SentraBerita.com, penyebab sindrom sleeping beauty atau putri tidur masih belum diketahui secara pasti. Namun kuat dugaan, hal ini masih ada erat kaitannya dengan gangguan fungsi otak yang mengendalikan rasa lapar maupun tidur. Sampai sejauh ini, belum ditemukan terapi yang mampu menyembuhkan penyakit ini, akan tetapi bisa disiasati dengan mengonsumsi obat tertentu untuk mengatur waktu tidur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *