Terpental dari Seleksi Sekda Kepri, Jefridin: Saya Ikhlas

  • Whatsapp
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam Jefridin Hamid.

Batam (SentraBerita.com) – Jefridin gagal lolos dalam seleksi sekretaris daerah Kepri. Ia menyatakan ikhlas perihal hasil seleksi yang diajukan ke Kementerian Dalam Negeri tersebut.

“Intinya saya ikhlas dan tidak kecewa,” ungkap Jefridin saat ditemui di Gedung Wali Kota Batam, Batam Center, Selasa (12/10).

Nama Jefridin hilang dari hasil seleksi. Berdasarkan berkas yang diperoleh SentraBerita.com, Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengajukan tiga nama hasil seleksi pansel. Mereka adalah Adi Prihantara, Misni dan Sardison. Lampiran surat tertanggal 8 Oktober 2021.

Hasil seleksi tersebut menunjukkan sejumlah pejabat Pemko Batam yang ikut seleksi gagal lolos seleksi. Ada tiga nama yakni Raja Azmansyah yang kini menjabat Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Batam, Yusfa Hendri, dan Jefridin yang menjabat Sekretaris Daerah Kota Batam.

Jefridin selama proses seleksi disebut-sebut calon kuat Sekda Kepri karena kedekatannya dengan Wali Kota Batam Muhammad Rudi yang juga Ketua DPW NasDem, partai pengusung Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Marlin Agustina.

Jefridin menegaskan tak kecewa dengan keputusan panitia seleksi. Siapapun yang terpilih menjadi sekda nantinya, ia berharap mampu membawa Kepri ke arah yang lebih baik.

“Saya kan peserta. Soal masuk tak masuk, itukan (keputusan) Pansel. Soal nilai itu relatif dan subjektif, itu pasti. Intinya saya ikhlas, ya orang bisa menilai,” paparnya.

Jefridin sendiri sejak lama digaungkan maju dalam pemilihan wali kota Batam. Dukungan muncul dari netizen di media sosial, termasuk untuk pemilihan 2024.

Jefridin tak secara langsung menyatakan akan maju. Ia menjawab dengan diplomatis dan berterima kasih kepada dukungan masyarakat.

“Pertama saya terima kasih la dukungan masyarakat. Jangankan jadi Wali Kota jadi presiden pun saya siap. Soal-soal itu tak bisa saya jelaskan panjang. Tapi, kalau soal kemampuan pemahaman aturan saya sudah lima tahun di sini (Pemko Batam) membantu pak wali,” jelas Jefridin.

Pertarungan Politik

Pengamat politik, Zamzami A Karimun berpendapat seleksi Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau merupakan bagian pertarungan politik antara Gubernur Ansar Ahmad dengan Wali Kota Batam, Rudi.

“Persaingan politik antara Ansar dan Rudi itu sudah terbuka, nyata, tidak sembunyi-sembunyi. Masing-masing memiliki orang yang ingin dijadikan sebagai Sekda Kepri,” kata Zamzami, di Tanjungpinang dikutip dari Kantor Berita Antara, akhir pekan lalu.

Zamzami, yang juga mantan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Raja Haji Tanjungpinang mengatakan konflik politik antara Ansar dan Wagub Kepri Marlin Agustina, yang juga istri dari Wali Kota Batam, pernah disampaikan secara terbuka oleh Ansar Ahmad dalam konferensi pers di Batam belum lama ini.

Sejak itu, publik tidak meraba-raba lagi terhadap isu persaingan politik antara Ansar dengan Rudi yang diperkirakan akan mencalonkan diri sebagai Gubernur Kepri pada Pilkada Kepri 2024. Bahkan publik pun tidak mencurigai seleksi Sekda Kepri jika Ansar tidak membongkar hubungan yang kurang baik antara dirinya dengan Marlin.

Konflik itu diduga bermula ketika Rudi atau Marlin dengan Ansar memperebutkan jabatan Sekda Kepri. Konflik itu diduga bermula dari janji politik antara politisi yang berhasil memenangkan Pilkada Kepri tahun 2020 tersebut. Janji politik itu dikaitkan dengan siapa yang berhak menetapkan Sekda Kepri.

Kini penyeleksian Sekda Kepri sudah memasuki tiga besar. Nama-nama calon Sekda Kepri yang beredar itu yakni Jefriden, Adi Prihantara dan Sardison.

Menurut Zamzami, nama calon Sekda Kepri yang dibayangi Ansar Ahmad adalah Adi Prihantara, yang saat ini masih menjabat sebagai Sekda Bintan. Sedangkan Jefriden, yang menjabat sebagai Sekda Batam merupakan pejabat yang diinginkan Rudi atau Marlin sebagai Sekda Kepri.

“Kalau Sardison, kontak dengan Ansar sepertinya kurang dekat, meski pernah menjabat sebagai Camat Bintan Utara saat Ansar menjabat sebagai Bupati Bintan. Perkembangan saat ini, terlihat masing-masing membawa gerbong,” ujarnya.

Zamzami menjelaskan seleksi Sekda Kepri berujung pada keputusan Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK). Hal itu sesuai dengan UU Nomor 5/2014 tentang ASN, UU Nomor 11/2017 tentang Manajemen PNS, dan Peraturan MenPAN RB Nomor 25/2019.

“Kita menginginkan proses seleksi terhadap jabatan ASN bebas dari kepentingan politik kekuasaan, karena nantinya berhubungan dengan kepentingan rakyat. ASN akan terbiasa tidak netral, dan memberi pelayanan diskriminatif ketika dibawa dalam pusat kepentingan politik yang berupaya memelihara kekuasaan,” katanya.

Anggota Panitia Seleksi (Pansel) Sekda Kepri, Prof Agung Dhamar Syakti merahasiakan tiga nama yang diusulkan menjadi Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau berdasarkan kesepakatan.

Agung, yang juga Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji menyatakan, lima anggota pansel sepakat untuk tidak membeberkan tiga calon Sekda Kepri, hasil penyeleksian sementara. Alasannya, tiga calon Sekda Kepri masih harus melalui tiga tahapan lagi yakni hasil evaluasi Komisi Aparatur Sipil Negara terhadap pelaksanaan penyeleksian, pengawasan dari PPATK, dan juga penilaian dari Badan Intelijen Negara (BIN).

“Tugas pansel sudah selesai mengantarkan tiga orang calon Sekda Kepri. Nama-nama itu sudah diserahkan kepada gubernur,” katanya.

Menurut dia, selama proses penyeleksian, tidak ada intervensi dari pihak manapun. Pansel bekerja sesuai prosedur, dan menilai secara objektif terhadap kemampuan calon Sekda Kepri.

“Tidak ada pesanan dari pihak manapun. Kami bekerja sesuai amanah yang diberikan, memberikan penilaian yang objektif,” tegasnya.

Isu yang beredar, tiga nama yang diusulkan pansel yakni Jefriden, Adi Prihantara dan Sardison. Agung enggan menanggapi informasi tersebut.

“Saya belum baca beritanya, karena terlalu banyak aktivitas lain yang saya kerjakan dalam beberapa hari ini,” ucapnya. (Engesti)

|Baca Juga: 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *