Sulit Cari RS, Ibu Akan Melahirkan di Pamekasan Tak Tertolong

  • Whatsapp
Pamekasan, Sentra Berita —

Seorang ibu hamil (bumil) yang hendak melahirkan serta bayi kandungannya tidak tertolong setelah pontang-panting mencari rumah sakit (RS) di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Bumil tersebut adalah Nurul Lita Dianasari (25) warga Dusun Biyan Tengah, Desa Kaduara Barat, Kecamatan Larangan.

Ketika tiba waktunya melahirkan, pihak keluarga sudah membawa bumil tersebut ke tiga rumah sakit. Namun, tak ada yang bisa merawatnya dengan salah satu alasan seragam: ruangan sudah penuh oleh pasien Covid-19.

Sang suami, Taufiqurrahman (26) bercerita, istrinya semula mendapatkan pertolongan bidan desa. Namun, bidan tidak bisa sepenuhnya membantu sehingga diputuskan untuk dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas medis lebih lengkap.

“Pembukaan ke sepuluh ini, istri saya sudah tidak dapat menghela napas lega alias sesak. Tenaganya habis. Bidan kemudian membawa istri ke RS,” kata Taufiq ditemui SentraBerita.com di rumahnya, Senin (19/7) sore.

Kusuma Hospital jadi rumah sakit pertama yang dikunjungi, namun fasilitas kesehatan itu tak merawat karena kadar oksigen Lita sudah rendah. Pihak rumah sakit kemudian menyarankan untuk dibawa ke RS Mohammad Noer. Di tempat kedua yang dituju juga tak bisa menerima dengan dalih sudah sesak dengan pasien.

“Akhirnya kami sama bidan ke RS Larasati, di sana sempat masih berdiskusi untuk melobi, namun tidak berhasil setelah mengetahui kadar oksigen rendah. Lalu disuruh ke RSUD,” ujar Taufiq.

Akhirnya mereka pun beranjak ke RSUD dr H Slamet Martodirdjo yang jaraknya sekitar 3 kilometer lebih dari rumah sakit yang terakhir. 

Sesampainya di sana, kata Taufiq, Lita tidak langsung ditangani meski sudah kritis.




Pontang-panting Cari RS, Ibu Melahirkan di Pamekasan Meninggal DuniaKeluarga korban ibu melahirkan di Pamekasan yang meninggal setelah kesulitan mendapatkan ruang di sejumlah rumah sakit karena penuh oleh pasien. (Sentra Berita/Nurus)

Petugas masih mencari tempat kosong di emperan halaman belakang RS hingga mendapatkan tempat tersebut. Lita lalu dibawa, namun keluarganya sudah melihat kondisi Lita sudah begitu pucat.

“Mulai pagi hingga sore, menjelang magrib baru masuk rumah sakit. Apa tidak kepayahan dan kelelahan istri saya,” tutur Taufiq.

Akhirnya, baik Lita maupun bayi di dalam kandungannya tak dapat tertolong.

Situasi yang terjadi itu pun membuat Kepala Desa Kaduara Barat, Endang Susilawati Ningsih ikut berduka atas meninggal warganya akibat sesaknya RS di tengah lonjakan Covid saat ini. Ia berpandangan bahwa masyarakat di masa pandemi Covid-19, kurang mendapatkan pelayanan memuaskan dari RS.

“Memang sudah beberapa RS dikunjungi tapi tetap ditolak. Semoga ada hikmah dari peristiwa ini,” kata Endang.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis, SentraBerita.com belum mendapatkan konfirmasi ataupun klarifikasi dari rumah-rumah sakit dituju maupun pihak Dinas Kesehatan setempat.

(nrs/kid)

[Gambas:Video CNN]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *