Sudah Deal Kontrak EPC, Kapan Smelter Freeport Beroperasi?

  • Whatsapp

Jakarta, Sentra Berita Indonesia – PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Chiyoda International Indonesia hari ini, Kamis (15/07/2021) menandatangani kontrak kerjasama untuk kegiatan Engineering, Procurement, and Construction (EPC) proyek Smelter Manyar, Gresik, Jawa Timur milik Freeport.

Setelah penandatanganan kontrak EPC ini, kapan smelter katoda tembaga Freeport tersebut bisa mulai beroperasi?

Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan, Freeport akan berupaya merampungkan proyek ini pada 2023. Target ini menurutnya disesuaikan dengan komitmen Freeport pada saat kesepakatan divestasi 51% dengan pemerintah.

Seperti diketahui, dalam perjanjian divestasi saham yang dilakukan pada 2018, salah satu komitmen Freeport yaitu membangun smelter baru dan ditargetkan bisa beroperasi pada 2023.

“Kami berupaya menyelesaikan proyek ini sesuai dengan komitmen kami pada saat divestasi yaitu akhir 2023,” ungkapnya kepada Sentra Berita Indonesia, Kamis (15/07/2021).

Saat ditanya berapa nilai kontrak EPC dengan PT Chiyoda International Indonesia ini, Riza tidak bersedia mengungkapkannya.

“Saya tidak bisa memberikan nilai kontrak,” ujarnya.

Namun sebelumnya, Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak sempat menuturkan bahwa perkiraan nilai investasi untuk pembangunan proyek smelter baru Freeport di Manyar, JIIPE, Gresik ini mencapai US$ 3 miliar.

Kontrak ini mencakup pengerjaan proyek pembangunan smelter berkapasitas 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun serta fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan penandatanganan kontrak ini menjadi bentuk komitmen Freeport untuk membangun smelter, sesuai dengan kesepakatan divestasi tahun 2018.

“Di tengah berbagai tantangan pandemi Covid-19 yang dialami Indonesia dan seluruh pihak yang terlibat dalam proyek ini, kami terus melakukan penyesuaian agar kami dapat terus bekerja sambil tetap mengedepankan kesehatan dan keselamatan seluruh tenaga kerja serta masyarakat di sekitar area kerja,” paparnya melalui keterangan resminya.

Direktur PT Chiyoda International Indonesia Naoto Tachibana juga menegaskan komitmennya untuk ikut berkontribusi bagi Indonesia melalui pembangunan Smelter Manyar.

Naoto berharap, pengalaman dan kepemimpinan Chiyoda sebagai salah satu perusahaan terkemuka di dunia akan membantu mewujudkan tujuan optimalisasi hilirisasi nasional.

“Penandatanganan kontrak ini menandai teguhnya komitmen PT Chiyoda International Indonesia untuk turut berkontribusi bagi bangsa dan negara Indonesia. Kami akan melakukan yang terbaik, memastikan proyek ini dapat kami selesaikan tepat waktu,” tutur Naoto.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin menyambut baik penandatanganan kontrak antara kedua belah pihak.

“Penandatanganan ini menjadi energi positif di tengah berbagai tantangan yang sedang Indonesia hadapi. Pemerintah melalui Kementerian ESDM mendorong akselerasi dari proyek ini, dan akan terus bekerja sama dengan PTFI untuk membantu memastikan pengerjaan proyek ini dapat diselesaikan tepat waktu,” ujar Ridwan.

Pada tahun lalu, PT Freeport Indonesia sempat mengajukan penundaan target beroperasinya smelter baru ini karena terimbas pandemi Covid-19. Freeport mengajukan penundaan target mulai operasi setahun menjadi 2024. Namun hal ini ditolak pemerintah, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Kementerian ESDM tetap menargetkan Freeport bisa menuntaskan proyek smelter baru ini pada 2023, sesuai target awal.

[Gambas:Video CNBC]

(wia)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *