Stategi Zenius Mengurangi Kesenjangan Belajar Lewat Teknologi

  • Whatsapp

Jakarta, Sentra Berita Indonesia – Co-founder dan Chief Education Officer Zenius, Sabda PS menilai siswa Indonesia masih dibayangi oleh learning gap atau kesenjangan belajar, sehingga dibutuhkan pembelajaran fundamental skill untuk meningkatkan kualitas SDM Kesenjangan ini menurutnya terjadi dalam setiap tingkatan pendidikan bahkan juga siswa yang sudah lulus dan masuk dunia kerja.

“Bahkan SDM kita yang sudah lulus sekolah kekurangan fundamental skill, jadi kami merasa bagaimana harus menyediakan sesuatu di masyarakat sehingga bisa digunakan mengejarnya untuk semua kalangan dan umur. Hal ini bisa meningkatkan secara dramatis kekuatan SDM kita,” kata Sabda dalam Economic Update Sentra Berita Indonesia, Senin (19/7/2021).

Dia mengakui sulit bagi siswa mempelajari fundamental jika tidak memiliki ketertarikan. Inilah yang membuat Zenius melakukan pendekatan menggunakan Artificial Intelligent (AI) sehingga bisa melakukan personifikasi. Sabda mengatakan yang bisa mendorong adanya peningkatan fundamental skill bukan hanya lembaga pendidikan melainkan juga korporasi.

“Penting dari kalangan korporasi untuk menekankan pentingnya skill ini sebagai dorongan belajar sehingga ada standar yang arahnya kesana. Kalau sudah ada, akhirnya akan jd pada mau mengembangkan kemampuan dasar tadi,” ujarnya.

Adapun fitur adaptif learning yang dikembangkan Zenius, berdasarkan analisa kemampuan dasar yang bisa diterapkan dalam sebanyak mungkin ilmu. Sabda menyebutkan kemampuan dasar tersebut sesuai dengan yang diharapkan pemerintah dalam program merdeka belajar, yakni numerasi, literasi, dan pemikiran kritis. 

“Kami memang melihat ini terpakai di segalanya dan dipakai ilmu dan pekerjaan. Kami susun fundamental skill yang bersifat akumulatif untuk belajar ini dia butuh punya skill ini dulu.Kami susun ini semua menjadi suatu sistem, kita menentukan agar mereka tidak belajar pasif. skill mereka akan disajikan dalam level yang pas. Kalau sudah mahir baru dikasih level yang lebih tinggi,” kata dia.

Dia menegaskan definisi pintar kini bukan lagi hanya sekedar menghapal melainkan juga bagaimana seorang berpikir. Selama ini pembelajaran yang ada di Indonesia menurutnya kurang memberikan ruang untuk siswa berpikir kritis dan kreatif, sehingga pengetahuan lebih bersifat sekedar tahu dan hapal.

“Kita harus mendorong agar bukan hanya tahu saja, tapi bagaimana yang kita tahu dan pikirkan ini menjadi relevan. Jika pola pikir yang dikembangkan ini akan menetap seumur hidup, ini yang harus diselesaikan,” ujarnya.

Apalagi di masa pandemi Covid-19 akses belajar siswa semakin terbatas terutama untuk kemampuan sosial yang biasanya terjadi pada interaksi di sekolah. Hal ini juga berdampak pada kehilangan pembelajaran atau learning loss yang besar sehingga kondisinya memprihatinkan.

“Ada dampak dalam pembelajaran mereka dan terjadilah learning loss yang besar. Ini terjadilah riset-riset dari seluruh dunia ada learning loss yang besar karena pandemi dan di Indonesia sendiri, diperparah karena sudah ada gap yang terjadi akumulasi sebelumnya dan kondisinya memprihatinkan,” kata Sabda.

[Gambas:Video CNBC]

(rah/rah)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *