Mulai Bangkit, Wahana Terbesar di Asia Tenggara Akan Dibangun di Bali

  • Whatsapp

SentraBerita.com – Dampak Pandemi COVID-19 membuat ekonomi seluruh dunia babak belur, tak terkecuali Indonesia. Untuk level provinsi, Bali menjadi salah satu provinsi yang perekonomiannya mengalami kontraksi paling parah sebagai dampak dari pandemi.

Namun kini pariwisata Bali perlahan bangkit. Hal itu ditandai dengan kerjasama internasional yang dilakukan PT Kios Ria Kreasi bersama Paramount Pictures Amerika Serikat. Keduanya sepakat akan membangun theme park atau wahana buatan terbesar di Asia Tenggara yang lokasinya bakal berada di Bali.

Pengamat pariwista Taufan Rahmadi mengatakan, kehadiran investasi ke Pulau Dewata ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap Bali masih sangat besar. Sejurus dengan itu, pariwisata Bali juga dianggap sangat menjanjikan terutama di masa pasca Covid-19 nanti.

“Saya pikir Bali tetap punya magnetnya sendiri dan berpeluang besar terkait kebangkitan sektor pariwisata. Itu saya yakini sekali,” kata Taufan, Senin (19/7).

Taufan juga menuturkan, masuknya investasi menunjukkan bahwa Bali dianggap memiliki ceruk pasar yang selama ini menjadi kekuatan Pulau Dewata di sektor pariwsata. Terlebih ini adalah konteksnya wahana. Justru wahana itu punya tembakan market yang luas.

“Satu, marketnya bisa wisatawan lokal yang ada di Bali. Kedua, tembakannya untuk wisatawan domestik atau wisatawn Nusantara. Ketiga, wisatawan mancanegara itu sendiri,” katanya.

Baca Juga: Ini Sanksi Pidana Bagi Pelanggar PPKM Darurat

Untuk mencapai kebangkitan pariwista khususnya Bali dan destinasi wisata lainnya, Taufan menekankan pentingya mengubah pola pikir bagaimana cara kita melihat Covid-19. Merujuk pada apa yang dilakukan dua negara tetangga di kawasan seperti Thailand dan Singapura, menurutnya Indonesia harus mulai hidup berdampingan dengan Covid-19.

“Kita harus mulai belajar berdampingan dengan Covid-19. Berarti kebijakannya yang juga bisa berdampigan dengan itu. Jalan tengahnya adalah bagaimana kita menjalankan ekonomi, menjalankan pariwisata, juga tetap menjalankan protokol kesehatan,” katanya.

“Mulai pelan-pelan membuka border internasional dengan protokol kesehatan yang sangat ketat dengan standar pelayanan berwisata di era new normal seperti yang dilakukan negara lain. Sebab ketika pariwisata bangkit, investasi itu akan mengikutinya,” imbuh Taufan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *