Mengenal Claustrophobia, Ketakutan Akan Ruang Tertutup dan Cara Mengatasinya

  • Whatsapp

Claustrophobia adalah kondisi saat seseorang sangat takut saat harus berada di ruang tertutup dan gelap.

Seperti fobia lainnya, tingkat keparahan claustrophobia dapat sangat bervariasi dari orang ke orang. Mereka yang mengalaminya mungkin mengalami gejala di ruangan kecil, keramaian, dan banyak situasi lainnya.

Beberapa orang yang menderita kondisi ini sering merasa tidak nyaman berada di lift, di wahana taman hiburan yang menggunakan pengaman (seperti roller coaster), toilet umum, atau bahkan pintu yang berputar.

Ruang Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan pengujian medis lainnya juga bisa sulit atau tidak mungkin dilakukan jika seseorang mengalami claustrophobia.

Baca juga: Panic Disorder atau Gangguan Panik: Gejala dan Penyebabnya

Gejala Claustrophobia

Foto: timesofindia.indiatimes.com

Jika seseorang mengalami claustrophobia, seseorang mungkin mengalami kecemasan ringan di ruang tertutup atau bahkan serangan panik yang parah. Gejalanya dapat memburuk jika berada di tempat tersebut lebih lama.

Ia mungkin menangis, berteriak, dan mencoba keluar dari situasi tersebut dengan cara apa pun

Meskipun tidak semua orang bereaksi terhadap claustrophobia dengan cara yang sama, gejalanya dapat meliputi:

  • Merasa seperti dinding sudah ditutup.
  • Menggigil atau merasa panas.
  • Berkeringat.
  • Gemetar.
  • Sulit bernapas.
  • Perasaan seperti tersedak.
  • Merasa pusing atau pingsan.
  • Telinga berdenging.
  • Mual.
  • Kebingungan.
  • Nyeri dada.
  • Palpitasi jantung.
  • Sakit kepala.
  • Mulut kering.
  • Keinginan buang air kecil yang tak terkendali.

Pada akhirnya, mereka yang mengidap kondisi ini mungkin mulai takut pada aktivitas yang dapat membuat dirinya harus masuk ke ruangan tertutup.

Ingat, claustrophobia yang parah bisa menyebabkan kondisi seperti pingsan, trauma, atau bahkan kematian, sehingga seseorang harus jujur mengenai kondisi ini kepada orang lain.

Baca Juga: Perbedaan Serangan Panik dan Serangan Cemas

Kemungkinan Penyebab Claustrophobia

claustrophobia-2.jpg

Foto: health.usnews.com

Peneliti belum yakin faktor apa yang dapat menyebabkan kondisi ini. Banyak yang berspekulasi bahwa hal itu mungkin berakar pada pengalaman masa kecil yang buruk. Yang lain percaya bahwa itu mungkin pembengkokan mekanisme kelangsungan hidup evolusioner.

Para peneliti dari Emory University misalnya, menyimpulkan bahwa orang yang secara keliru memahami jarak di luar jangkauan lengan mereka lebih cenderung mengalami ketakutan claustrophobic.

Bagaimanapun, tampaknya riwayat gugup di ruang tertutup pada akhirnya dapat menyebabkan claustrophobia besar-besaran.

Selain itu, pengalaman masa lalu atau masa kecil seringkali menjadi pemicu yang menyebabkan seseorang mengasosiasikan ruang kecil dengan rasa panik atau bahaya yang akan segera terjadi. Pengalaman yang dapat memberikan efek ini mungkin termasuk:

  • Terjebak atau berada di tempat terbatas, secara tidak sengaja atau sengaja,
  • Dilecehkan atau diintimidasi saat masih kecil.
  • Berpisah dari orang tua atau teman saat berada di area yang ramai.
  • Memiliki orang tua dengan claustrophobia.

Trauma yang dialami saat itu akan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menghadapi situasi serupa secara rasional di masa depan. Ini dikenal sebagai pengkondisian klasik.

Pikiran orang tersebut diyakini menghubungkan ruang kecil atau area terbatas dengan perasaan berada dalam bahaya. Tubuh kemudian bereaksi sesuai, atau dengan cara yang nampaknya logis.

Pengondisian klasik juga bisa diwariskan dari orang tua atau teman sebaya. Jika orang tua, misalnya, takut berada dekat, anak tersebut mungkin mengamati perilaku mereka dan mengembangkan ketakutan yang sama.

Teori lain yang mungkin menjelaskan klaustrofobia meliputi:

1. Memiliki Amigdala yang Lebih Kecil

Mengutip jurnal Psychiatry and Clinical Neuroscience, kondisi ini bisa memicu seseorang menjadi lebih mudah alami serangan panik. Amigdala adalah bagian otak yang mengontrol bagaimana tubuh memproses rasa takut.

2. Faktor Genetik

Mekanisme kelangsungan hidup evolusioner yang tidak aktif menyebabkan reaksi yang tidak lagi diperlukan di dunia saat ini.

Penelitian terhadap tikus telah mengindikasikan bahwa satu gen dapat menyebabkan beberapa individu memiliki tingkat “stres penyusup-residen” yang lebih tinggi.

Sekelompok peneliti telah menyarankan bahwa orang yang mengalami klaustrofobia menganggap hal-hal lebih dekat daripada mereka, dan ini memicu mekanisme pertahanan.

Baca Juga: Benarkah Penderita Diabetes Lebih Rentan Mengalami Gangguan Kecemasan?

Cara Mengatasi Claustrophobia

psikoterapi

Foto: thescienceofpsychotherapy.com

Ada berbagai cara mengatasi claustrophobia, semua pengobatan tersebut bisa dilakukan bersamaan tergantung kondisi tiap orang. Setiap pengobatan akan berfokus untuk mengurangi frekuensi dan potensi pemicu reaksi ketakutan.

Setelah diagnosis, psikolog dapat merekomendasikan satu atau lebih pilihan pengobatan, seperti:

1. Terapi Perilaku Kognitif

Tujuannya adalah untuk melatih kembali pikiran pasien sehingga mereka tidak lagi merasa terancam oleh tempat yang mereka takuti. Ini mungkin melibatkan secara perlahan memaparkan pasien ke ruang kecil dan membantu mereka mengatasi ketakutan dan kecemasan mereka sendiri.

2. Mengamati Orang Lain

Melihat orang lain berinteraksi dengan sumber ketakutan dapat meyakinkan pasien.

3. Terapi Obat

Cara mengatasi claustrophobia selanjutnya adalah dengan mengandalkan antidepresan dan relaksan dapat membantu mengelola gejala. Namun perlu diingat bahwa mereka tidak akan menyelesaikan masalah yang mendasarinya.

4. Latihan Relaksasi dan Visualisasi

Dengan cara menarik napas dalam-dalam, bermeditasi, dan melakukan latihan relaksasi otot dapat membantu mengatasi pikiran negatif dan kecemasan.

Baca Juga: Kenali 6 Tipe Gangguan Kecemasan pada Anak

5. Pengobatan Alternatif atau Pelengkap

Beberapa suplemen dan produk alami dapat membantu pasien mengatasi kepanikan dan kecemasan. Beberapa minyak penenang tersedia untuk dibeli secara online, seperti minyak lavender.

Perawatan sering berlangsung sekitar 10 minggu, dengan sesi dua kali seminggu. Dengan pengobatan yang tepat, sangat mungkin seseorang bisa mengatasi claustrophobia yang ia alami.

Selain itu, ada juga beberapa kiat untuk mengatasi ketakutan ini. Beberapa strategi yang dapat membantu orang mengatasi claustrophobia meliputi:

  • Tetap diam jika serangan terjadi. Jika terjadi saat mengemudi, segera menepi ke pinggir jalan dan menunggu sampai gejala berlalu.
  • Mengingatkan diri sendiri bahwa pikiran dan perasaan yang menakutkan akan berlalu.
  • Mencoba untuk fokus pada sesuatu yang tidak mengancam, misalnya waktu yang berlalu atau orang lain.
  • Bernapas perlahan dan dalam, menghitung sampai tiga pada setiap tarikan napas.
  • Menantang rasa takut dengan mengingatkan diri sendiri bahwa itu tidak nyata.
  • Memvisualisasikan hasil dan gambar yang positif.

Sementara itu, strategi jangka panjang sebagai cara mengatasi claustrophobia mungkin termasuk dengan mengikuti kelas yoga, menjalankan program olahraga, atau melakukan sesi pijat aromaterapi, untuk membantu mengatasi stres.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *