Memahami Logika akun @adearmando1 dan Sejenisnya yang Justru Memperburuk Pandemi

  • Whatsapp

Mungkin anda bertanya, bukankah memang begitu adanya, mortality (kematian) akibat covid-19 di negeri tidaklah sebanyak di Inggris dengan jumlah penduduk lebih sedikit? Eits… jangan tertipu dengan pertanyaan itu karena hal itu menyisakan satu hal yang hilang di diri kita sebagai manusia; empati.

Empati ini, anda tahu, yang membedakan kita dengan cacing maupun undur-undur dan sudah selayaknya manusia menggunakannya sebagai perisai terakhir untuk jadi manusia seutuhnya.

Anda tentu saja bisa mendebat, tapi bagi saya, manusia akan kehilangan dirinya sebagai manusia jika ia tertawa di tengah duka.

Menjadi manusia ini juga bermakna, kita berusaha memahami, dalam situasi tidak menentu seperti hari ini, di tengah lengkingan suara TOA masjid yang saban hari mengabarkan kematian seolah tanpa jeda dan wabah yang entah kapan akan berhenti ini, kita sudah selayaknya membantu sesama. Atau paling tidak, kita tidak menaburkan luka di tengah mereka mereka yang berduka.

Ketika anda berpikir, kematian hanyalah angka semata dan kematian itu bagi orang tidak lebih dari angka statistik, maka bersiaplah, anda mungkin akan masuk segolongan akun seperti @adearmando1 yang seperti kehilangan empati.

Jika merunut logika akun itu, maka yang ditanyakan oleh akun yang menahbiskan diri di bio aku twitternya sebagai seorang dosen komunikasi itu penuh dengan kontradiksi dan logika yang ambles. Kematian manusia A adalah lebih baik dari B, dan artinya itu prestasi. Absurd.

Kita lantas bisa mengajukan pertanyaan sederhana, memangnya di Inggris–yang anda tahu sebagai negara maju–tidak menangis melihat warganya wafat akibat covid-19? Lalu mengapa seorang Boris Johnson, PM Inggris, sampai meminta maaf kepada para korban? Lalu, Indonesia lebih baik dengan kematian lebih sedikit? Apa arti kematian jika seperti itu?

Saya teringat mereka yang berjuang mencari RS dan sulit dan beberapa akhirnya wafat di tengah perjalanan. Anda akan gampang menemukan cerita ini beberapa hari terakhir. Apakah seperti ini bukanlah tragedi dan akun @adearmando1  saya rasa memperburuk pandemi?

Yah, virus corona pada akhirnya tidak saja menyebabkan anosmia indera pencium dan perasa, tetapi bagi beberapa orang juga menggejala di dalam nuraninya. Pada yang terakhir itu, hanya orang yang besangkutan yang bisa mengobati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *