Mati Mengenaskan

  • Whatsapp

SentraBerita.com Sendang keramat dan sebuah gelang emas. Mita sudah diperingatkan tapi dia merasa congkak dan menantang untuk kemudian mati mengenaskan.

Dalam seminggu terakhir, Mita (24) hanya terbaring kaku di kamar. Matanya terbelalak tak berkedip, wajahnya pucat pasi, tubuhnya dingin. Hanya memang dia masih bernafas. Kondisi yang sempat membuat keluar Mita berharap, sebelum takdir mati mengenaskan itu terjadi.

Bacaan Lainnya

Bu Nunik, ibu Mita, mengaku sudah mengupayakan banyak hal. Sejak pertama kali Mita ambruk dan mendadak lumpuh 3 bulan lalu, dia dan Pak Salam, ayah Mita, langsung membawanya ke rumah sakit umum di daerahnya.

Tidak ada perubahan berarti, orang tua Mita lantas merujuknya ke salah rumah sakit ternama di Jawa Tengah. Tapi hasilnya sama saja. Gonta-ganti rumah sakit, bukannya berangsur membaik, kondisi Mita justru kian memburuk. Bahkan sesaat setelah pulang dari rumah sakit terakhir yang mereka datangi, Mita justru kehilangan kesadaran. Bukan, bukan karena Covid-19.

Saat itu, pihak keluarga Mita sudah meyakini kalau ini bukan penyakit medis, melainkan gangguan gaib. Mereka menempuh jalur alternatif, mendatangkan beberapa paranormal yang katanya top, sampai 7 orang yang didatangkan.

Semua hasilnya sama saja. Mita tak sadarkan diri. Ironisnya, 3 dari 7 dikabarkan mati mengenaskan sepulang dari rumah Mita. Ada yang kecelakaan, tiba-tiba pembuluh darahnya pecah, yang terakhir mati tertabrak kereta api.

Keluarga Mita benar-benar tak berdaya. Yang lebih mengerikan, 1 minggu setelah kedatangan paranormal terakhir, mata Mita terbuka. Terbelalak saja dan tak berkedip. Sekujur tubuhnya dingin. Orang tua Mita semakin kalut.

“Mohon maaf, Buk, putri jenengan ini jiwanya sedang dibawa ke alam gaib. Saya sudah berusaha menembus masuk ke sana untuk mengambil jiwanya dari belenggu jin. Tapi jin ini ternyata lebih kuat,” ujar salah paranormal nomor 7.

“Saya punya kenalan paranormal yang lebih mampu soal ini. Coba jenengan hubungi nomor ini,” imbuh si paranormal sambil menyodorkan kertas bertuliskan 12 digit angka.

Tidak ada pilihan lain, Bu Nunik lantas menghubungi paranormal yang dimaksud. Beberapa hari kemudian, paranormal yang direkomendasikan datang. Perawakannya biasa saja, berpakaian biru langit, murah senyum. Namanya Pak Dedi

Sore itu, seperti Pak Dedi, seluruh pintu dan jendela harus ditutup. Tidak ada yang boleh berada di dalam rumah kecuali Pak Dedi dan Mita. Orang tua Mita, meski dengan rasa cemas, menurut saja. Mereka menunggu di luar ditemani beberapa tetangga. Mereka menunggu keajaiban.

Sebelum melakukan ritual, Pak Dedi sempat meminta keterangan dari orang tua Mita. Bu Nunik bercerita, bahwa dia tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi.

Kira-kira 3 bulan lalu, Mita berkunjung ke rumah temannya di salah satu kota di Jawa Timur. Seminggu kemudian, Mita pulang dan mengeluh dadanya sakit. Beberapa jam kemudian, Mita menggigil hebat. Panas dan dingin datang silih-berganti.

“Dulu kami mengira Mita sakit demam biasa, ya kami periksakan saja ke klinik. Kami sempat Mita kena Covid-19. Namun, setelah tes, kata dokter, Mita sakit demam biasa. Hasil tesnya negatif. Tapi nggak lama malah lumpuh, terus periksa sana-sini, minum obat ini-itu nggak ada hasilnya,” tutur Bu Nunik.

Tak lama berselang, ritual dimulai. Tidak ada yang tahu apa yang tengah dilakukan Pak Dedi di dalam rumah. Tetangga yang berkerumun menunggu sambil berbisik-bisik penasaran. Sementara di sudut lain, Pak Salam dan beberapa ibu-ibu tetangga tak hentinya menenangkan Bu Nunik yang menangis sesenggukan.

Setelah 3 jam berlalu, Pak Dedi membuka pintu depan dan mempersilakan Bu Nunik dan Pak Salam masuk.

“Gimana Mita, Pak?” tanya Bu Nunik tegang.

Sejenak Pak Dedi menarik napas. Sebelum akhirnya penerawangan yang berhasil dia lakukan. Jadi, Pak Dedi berusaha mengikuti kembali jejak kepergian Mita ke Jawa Timur. Termasuk ke dimensi lain tempat jiwa Mita diculik.

“Mita dibawa sama perempuan penjaga sendang,” ucap Pak Dedi. Mendengar itu, Bu Nunik menatap bingung Pak Salam. Sendang apa dan di mana? Batin Bu Nunik.

Pak Dedi mengungkapkan peristiwa 3 bulan lalu:

Bersama teman-temannya, Mita memang “sengaja” jalan-jalan ke tempat yang konon paling angker di Pulau Jawa. Saat itu, mereka menuju ke sebuah sendang keramat. Patut diketahui, sendang itu memang terbuka untuk umum. Namun, pengunjung tidak boleh mengambil sesuatu dari sendang tersebut.

Di sana sudah ada papan peringatan ditambah teman-teman Mita sudah memberi peringatan. Ketika rombongan itu hendak pulang, Mita melihat sebuah gelang cantik bersepuh emas tergeletak di tepi sendang.

Saat itu, Mita sadar betul akan keberadaan papan peringatan dan larangan teman-temanya. Namun, sekali lagi, “dengan sadar”, Mita mengambil gelang itu dan memasukkannya ke dalam ransel. Saat itu juga, Mita memang “tidak punya niatan” untuk memberitahu teman-temannya perihal gelang emas itu.

Intinya, Mita sepenuhnya sadar bahwa dia berkunjung ke salah satu sendang keramat di ujung Pulau Jawa. Mita juga sadar akan peringatan. Plus, Mita juga sadar dia memungut, memasukkan gelang ke dalam ransel, dan secara sadar tidak mau memberi tahu teman-temannya.

Sebetulnya, Mita tengah diuji oleh penjaga sendang. Soal alasan dan tujuan penjaga sendang menguji Mita, Pak Dedi tidak bisa dan tidak boleh menceritakan karena belum waktunya. Ketika sampai di bagian ini, Pak Dedi sempat hampir menangis. Mungkin dia sadar Mita tak akan sempat “punya waktu” karena ditakdirkan mati mengenaskan.

Maka, yang disampaikan Pak Dedi adalah:

“Si perempuan penjaga sendang marah. Sebagai gantinya, dia menyandera jiwa Mita, sebelum gelang itu dikembalikan ke tempat asalnya,” kata Pak Dedi lirih.

“Saya tadi juga melihat Mita di sana digantung terbalik di sebuah pohon besar. Dia meronta-ronta minta tolong. Jadi sekarang, coba kalian cek ke ransel Mita. Kalau gelang itu masih ada, segera kembalikan ke tempat asalnya. Semoga itu bisa jadi jalan kesembuhan Mita,” sambungnya menjelaskan.

Bergegas Bu Nunik dan Pak Salam membongkar ransel Mita. Ternyata tidak ada. Lalu mereka membongkar-bongkar lemari baju Mita. Tidak ada juga. Seluruh isi kamar Mita sudah digeledah, tapi mereka tak kunjung menemukan apapun. Hingga kemudian Pak Salam menyadari satu hal, jaket yang dikenakan Mita waktu pergi ke kota tersebut.

“Ketemu!” Teriak Pak Salam saat berhasil menemukan gelang emas dari saku jaket Mita.

Setelah berunding, akhirnya Pak Salam memutuskan akan berangkat lusa menuju sendang kemarat itu. Pak Dedi tidak boleh menyertai karena pesan dari perempuan penjaga sendang, tidak ada yang boleh mengembalikan gelang itu kecuali pihak keluarga sendiri.

Pak Dedi membekali Pak Salam sebuah kalung sebagai tolak bala. Kalung itu dibuat dari beberapa helai benang rajut yang ada di dalam kamar Mita. Tujuannya sebagai pertanda bahwa yang datang ke sendang adalah keluarga inti.

Pak Salam berangkat dengan perasaan tidak penuh. Maksudnya, dia ingin menyelamatkan puterinya. Namun, di sisi lain hatinya, Pak Salam ketakutan. Memang, perasaan ini sangat manusiawi. Namun, jika berkenaan dengan tolak bala dan bertanggung jawab, perasaan manusia tak boleh setengah-setengah.

Pak Salam sempat mengungkapkan kegelisahannya kepada Bu Nunik. Pasangan suami istri itu hanya bisa saling menguatkan. Apa pun syaratnya harus dilakoni demi nyawa puterinya. Demi sebuah usaha menyelamatkan anaknya dari takdir mati mengenaskan.

Entah bagaimana, rasa takut Pak Salam dijawab oleh semesta. Satu jam sebelum sampai di sendang keramat itu, Pak Salam mengalami kecelakaan tunggal. Mobilnya masuk jurang. Ketika berhasil dievakuasi, Pak Salam sudah meninggal dunia.

Ketika kabar duka itu sampai di telinga Bu Nunik, dia sedang berada di dalam kamar Mita. Sore itu, Bu Nunik masih tekun mendaraskan doa untuk keselamat suami dan puterinya. Ketika Bu Nunik mendapati kabar itu, dia menahan tangis yang begitu pilu sambil mencengkeram lututnya sendiri.

Entah bagaimana, Mita bereaksi terhadap kabar duka itu. Dari matanya yang terbelalak, air mata mengalir keluar. Badannya bergetar hebat. Kornea matanya berubah hijau muda, seperti permukaan sebuah sendang yang airnya bening dan sekelilingnya asri.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, satu kata keluar dari mulut Mita:

“Tolong….”

Dalam satu tarikan napas, Nu Nunik kehilangan suami dan puterinya. Keduanya mati mengenaskan. Menjadi korban dari hati yang manusia yang teledor, serakah, dan tidak amanah.

Selama beberapa bulan, Bu Nunik sangat sulit diajak berkomunikasi. Pak Dedi dipanggil lagi. Bersama psikater, Pak Dedi menemani Bu Nunik selama masa-masa penderitaan itu. Angga (21), adik Mita, teman saya, bersama Pak Dedi dan seorang psikiater, hampir tidak pernah meninggalkan sisi ibunya.

Di momen-momen itulah Pak Dedi menceritakan perihal ujian yang diberikan penjaga sendang kepada Mita. Angga menyampaikan hal itu kepada saya. Namun, maafkan, saya tidak diperkenankan menceritakan tujuan dari ujian tersebut. Angga diperkenankan untuk tahu karena runtutan ujian itu masih belum tuntas.

“Sekarang kondisi ibu sudah mendingan. Cuma kadang-kadang kalau kumat sering menangis histeris di kamar Mbak Mita. Katanya ibu melihat Mbak Mit dan Bapak lagi digantung terbalik di sebuah pohon besar,” tutur Angga kepada saya belum lama ini.

“Aku nggak tahu sih itu beneran atau cuma bayangan ibu. Tapi kalau sudah gitu aku cuma bisa memeluk menenangkan ibu. Setelah tenang, ibu minum obat dan baru bisa sepenuhnya tenang. Kata Pak Dedi, Mbak dan Bapak memang masih ada di sendang.”

“Keduanya memang mati mengenaskan. Tapi, yah, katanya mereka “belum selesai” sama Mbak Mita dan Bapak. Aku nggak tahu maksudnya. Pak Dedi belum mau cerita karena belum waktunya. Katanya begitu.”

“Terus, kenapa kamu cerita ke aku, Angga?” Tanya saya.

“Kalau soal gelang dan sendang itu masuk berlajut dan aku diminta ke sana untuk menyelesaikannya, aku nggak berani sendirian,” kata Angga setengah memohon.

Saya hanya bisa menarik napas dan mengaduh di dalam hati. Bayangan mati mengenaskan karena berkenaan dengan sendang kemarat itu membuat keringat dingin saya sempat menetes di dalam punggung.

Sebenarnya, di tengah-tengah cerita Angga, saya sempat terhenyak. Saya baru ingat, 2 minggu lalu saat berkunjung di lokasi yang sama, saya sempat ngobrol dengan salah satu teman yang tinggal tak jauh dari tempat itu.

Jadi, 2 minggu yang lalu, ada anak perempuan, sudah remaja, ditemukan jalan kaki sendirian keluar dari jalur hutan. Anak perempuan itu sudah dipanggil tapi tak menoleh. Ketika disusul, jejaknya sudah hilang. Dari ciri-ciri yang diceritakan, saya menduga-duga dia adalah Mita. Namun, kalau Mita, badan wadagnya ada di rumah.

Teman saya yang berusaha menyusul ke tepi hutan menemukan sebuah benda yang jatuh dari si anak remaja itu. Saya kaget karena ingat bahwa benda yang dipungut teman saya adalah sebuah gelang. Namun, gelang itu tidak bersepuh emas seperti yang dipungut Mita.

Saya yang agak panik minta izin kepada Angga untuk keluar rumah untuk menelfon teman saya. Sayangnya, hingga tulisan ini tayang, telfon saya tidak pernah diangkat. Nada dering panjang itu terasa sangat panjang dan beberapa saat yang lalu, nomor telfonnya tak lagi bisa dihubungi.

Saya harus bagaimana….

BACA JUGA Cerita Seram Pas Syuting Film Horor, Ketika Joko Anwar Dapat ‘Kenang-kenangan’ dan kisah mencekam lainnya di rubrik MALAM JUMAT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *