Mal Legendaris Mulai Ditinggalkan, Ini Bisa Jadi Jalan Keluar

  • Whatsapp

Jakarta, Sentra Berita Indonesia – Sepinya beberapa pusat perbelanjaan di DKI Jakarta pada momen natal dan tahun baru seharusnya membuat pengelola berbenah. Mal legendaris seperti Blok M Mall hingga Plaza Semanggi dan lainnya terpantau sangat sepi beberapa waktu lalu.

Bacaan Lainnya

Gencarnya penjualan daring seperti Shopee, Tokopedia dan lainnya memang bisa mengikis segmentasi pasar dari pusat perbelanjaan berbasis offline. Namun, mal akan tetap bertahan.

Untuk bisa bertahan, Staff ahli Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (HIPPINDO) Yongky Susilo menyebut mal harus menyediakan tempat berbelanja yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

“Bukan E-commerce. E-commerce kecil dan hanya bisa beli (produk), bukan experience. Jadi harus berubah konsep, upgrade lebih ke premium, tapi bukan luxury ya. Isi dengan experience,” sebutnya.

Konsep yang sedang dibutuhkan konsumen ini mengarah pada konsep one stop living, artinya pengunjung bisa melakukan berbagai hal di satu tempat, keperluan belanja, makan, rekreasi, kursus belajar hingga klinik dalam satu tempat. Alhasil masyarakat tidak perlu pergi ke lain tempat untuk memenuhi keperluannya.

Ketika beragam kebutuhan itu terpenuhi, mal tersebut bisa bersaing dengan banyak pusat perbelanjaan lainnya di Jakarta. Berdasarkan data APPBI DKI Jakarta, ada anggotanya di 5 wilayah DKI, yakni 96 mal. Jakarta Selatan menjadi wilayah terbanyak dengan 29 mal, kemudian Jakarta Pusat 21 mal, Jakarta Utara sebanyak 18 mal, Jakarta Barat sebanyak 16 mal, serta Jakarta Timur dengan 12 mal

“Kalau konsepnya bagus bisa aja (bersaing). Bikin mal berbeda. Baca pasar kan hanya soal caranya. Jadi manajemen baru atau lama tinggal beli datang, atau spend survey,” kata Yongky.

[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *