Kisah Para Penari Tambang di Ketinggian yang Masih Tersisa di Priangan

  • Whatsapp

Sore itu langit berubah lebih cerah, selepas kawasan hutan yang cukup asri di pinggiran Kota Tasikmalaya disambangi hujan rintik-rintik. Ratusan warga berbondong-bondong mendatangi lapangan desa, menyaksikan atraksi tradisional yang kini makin langka dipertontonkan. Seni ini berupa keterampilan tubuh, menyerupai tarian atau senam, di atas seutas tambang yang dipasang pada ketinggian 14 hingga 16 meter. Siapapun bakal terhipnotis menyaksikan keluwesan ‘sang penari’ melawan gaya gravitasi.

Nama atraksi itu adalah ‘laisan’, menampilkan dua lelaki yang menjalankan tugas berbeda. Satu lelaki menjadi pemain laisan, yang menari di atas tambang. Sementara lelaki lain akan mengenakan kostum dan berdandan laiknya ‘crossdresser’, menghibur para penonton di bawah dua tiang bambu dengan gerakan serta celetukannya.

Penonton dan pelaku kesenian lais bahu membahu mempersiapkan atraksi ini sejak awal. Dua bilah bambu tinggi, ditancapkan bersama-sama ke lubang yang digali hingga kedalaman 60 cm berbekal linggis. Tak ada semen, atau pengeras lain di pondasi, alhasil peluang bambu tersebut lepas dari lubang sebetulnya cukup tinggi. Salah seorang pemain lais memanjat salah satu bambu untuk membentangkan tali tambang manila, terbuat dari serat sabut kelapa dan ijuk sepanjang 8 meter.

Mengingat atraksi ini dilakukan di ketinggian, risiko celaka tentu semakin besar. Namun, tak ada gurat kekhawatiran dari pelaku lais. Jaring pengaman mereka sekadar dupa, kemenyan, dan uang kertas lembaran Rp100 ribu yang dimasukkan ke dalam bambu. Selama durasi 45 menit atraksi lais lazimnya berlangsung, berbagai piranti klenik merupakan satu-satunya garansi tidak akan terjadi insiden.

Setidaknya itu yang diyakini Aki Ahudin, lelaki 72 tahun yang termasuk generasi ketiga pemain seni lais. Keyakinannya terbukti. Di tengah gemuruh kekaguman penonton, musik tradisional yang bersahutan di lapangan, tak ada insiden yang terjadi selama sang penari berada di ketinggian.

Atraksi seni ketangkasan lais ditengarai muncul pada era kolonial Hindia Belanda. Menurut Aki Ahudin selaku sesepuh seni ini, lais awalnya tercipta di Kecamatan Sukawening, Garut, Jawa Barat. Sebutan ini lahir dari warga setempat yang bernama “Laisan”. Konon, Laisan sejak muda sangat pandai memanjat pohon kelapa.

“Saking ahlinya, masyarakat desanya berkerumun menonton saban Laisan memetik buah kelapa,” kata Aki Ahudin.

Mereka menonton Laisan sambil bersorak dan menabuh benda yang ada di sekitarnya untuk menyemangati Laisan. Lambat laun hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan, sehingga para tokoh kesenian di desa meminta Laisan memodifikasi keterampilannya agar bisa dipentaskan di depan khalayak ramai. Keahlian tersebut rupanya berhasil diturunkan Laisan, membuat kawasan Nangka Pait, Garut, dinobatkan sebagai lokasi kelahiran Seni Lais.

Beberapa tahun memasuki Abad 20, seni lais semakin terkenal di Kota Garut. Lazimnya atraksi ini akan dihelat demi menghibur pengunjung acara khitanan, kawinan, atau syukuran. Atraksi senam di atas tambang ini lantas menyebar ke beberapa daerah lainnya di wilayah Priangan Timur, termasuk Ciamis dan Tasikmalaya.

Aki Ahudin bila sedang tidak berkesenian, sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Dia mengaku mulai menekuni atraksi lais sejak akhir dekade 1970-an. Orang tuanya merupakan pemain lais kesohor di kampungnya, Cikalong, Tasikmalaya. Wajar bila dia lantas diwarisi keterampilan ini.

Pada masa jayanya, Aki Ahudin nyaris tak berhenti berkeliling desa ke desa, menari di atas tambang demi menyemarakkan momen khusus seperti hajatan atau perayaan 17 Agustus. “Awal tahun 1990’an, saya pernah diundang melakukan atraksi lais di beberapa festival seni dan budaya sunda di Jakarta dan Bandung,” kenangnya.

Sadar usianya makin senja, Aki Ahudin berusaha mencari penerus. Keahlian menari di atas tambang itu akhirnya dia turunkan pada sang menantu, bernama Suhada. Lelaki 34 tahun yang lebih akrab dipanggil Hada ini mulai belajar lais enam tahun lalu. Awalnya, dia tak terlalu tertarik pada seni tersebut. Namun, karena sering melihat mertuanya pentas berkeliling Tasikmalaya dan kota-kota Priangan Timur, lambat laun kecintaan Hada pada lais tumbuh.

Tentu dia tak bisa langsung meniru aksi Aki Ahudin beraktraksi di ketinggian belasan meter. Hada harus memulai dari upaya sederhana: memanjat sebanyak mungkin pohon tinggi di desanya. Seiring tingginya jam terbang memanjat pohon, serta memupuk keberanian, baru dia memulai tantangan sebenarnya: memanjat pohon bambu yang cenderung licin.

“Setelah empat bulan [latihan memanjat pohon tinggi], baru coba memanjat batang bambu setinggi 12 meter tanpa pengaman,” kata Hada.

Kini, Hada telah dinyatakan “lulus” oleh Aki Ahudin, bahkan menjadi pemain utama yang menjalankan atraksi lais di ketinggian. Reputasi Hada pelan-pelan menanjak sebagai pemain lais yang cukup mumpuni, setidaknya di seantero Tasikmalaya. Sementara Aki Ahudin menjadi penghibur yang berdandan menor, tak lagi berurusan dengan panjat memanjat.

Sayangnya, seperti seni tradisional lain di Indonesia, regenerasi pemain lais mengalami hambatan serius. Hada mengaku cukup langka bagi lelaki seumurannya untuk menjalani profesi sebagai pemain atraksi lais. Anak-anak muda desanya lebih memilih bekerja di kota.

Selain itu, menekuni lais butuh komitmen tinggi, sebab beberapa gerakan khas lais amat sulit dilakukan tanpa latihan intensif. Sebutlah gerakan ‘Koprol’ (memutarkan badan di atas tambang), ‘Beulit Kacang’ (Melilitkan tambang pada bagian tengah badan), ‘Ngaitkeun Suku’ ( menggantungkan kedua kaki pada bagian dengkul ke tali tambang), atau ‘Kolecer’ (memutarkan badan pada tali tambang). Berbagai gerakan tersebut butuh dilatih hingga berbulan-bulan, sampai seseorang mahir melakukannya di ketinggian tanpa membahayakan diri sendiri.

“[Tiap gerakan] harus dipelajari satu per satu sampai “lulus”, tidak bisa sekaligus mempelajari langsung beberapa gerakan, karena berbeda cara [melakukan] dan tingkat kesulitannya,” tandas Hada.

Tantangan lainnya, pemain lais harus memiliki disiplin setara olahragawan dengan kondisi fisik prima. Hada sendiri kini saban dua kali sepekan, bakal rutin lari, push up, back up, sit up, pull up, melatih keseimbangan tubuh, hingga mengatur pernapasan.

Mengingat seni ini kelak akan tenggelam atau terus hidup sesuai apresiasi masyarakat, maka Hada pun tetap punya rencana cadangan. Dia tak mengandalkan sepenuhnya pemasukan dari lais. Sehari-hari, Hada berprofesi sebagai tukang kayu, spesialis membuat pintu dan jendela rumah.

Alhasil, dia menjalani dua kesibukan nyaris saban hari. Latihan fisik Lais dia laksanakan selesai salat Ashar, sampai menjelang Maghrib. Barulah sesudah malam, dia bekerja sebagai tukang kayu.

Hada akan menjalani dualitas harian itu, sampai kelak dia mewariskan seni ini pada generasi selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *