Kisah Jihad Santri Aceh Membunuh Controleur Belanda dengan Kelewang

  • Whatsapp

Teungku Ubit, santri dayah Keunaloi, Seulimuem, Aceh Besar, terpengaruh ajakan jihad dalam hikayat Prang Sabi. Dia membunuh seorang pejabat Belanda, di tahun terakhir keberadaan pemerintah kolonial di Aceh.

Kisah Jihad Santri Aceh Membunuh Controleur Belanda dengan Kelewang
Rumah Controleur Belanda di Seulimum masih terawat hingga kini. Foto: Iskandar Norman

Usai mengaji pada suatu malam, 23 Februari 1942, lantunan syair-syair hikayat Prang Sabi tentang kewajiban membela agama dan memerangi kafir, diperdengarkan para pengajar di Dayah Keunaloi, Seulimum, Aceh Besar. Para santri menyimak dengan baik.

Hal lazim terjadi di dayah-dayah Aceh pada masa itu. Hikayat Prang Sabi didendangkan untuk semangat menentang penjajah. Pemerintah Kolonial Belanda sempat melarang hikayat ini dibacakan, jika ditemukan akan ditangkap.

Namun, di tempat-tempat tertentu hikayat ini tetap dilantunkan di depan penduduk, guna membangkitkan semangat jihad. Bahkan di Dayah Keunaloi, santrinya mendapat wejangan khusus untuk mempelajari hikayat Prang Sabi.

Salah satu santri adalah Teungku Ubit, masih 16 tahun. Jelang tengah malam, usai semua kegiatan berakhir di dayah, Teungku Ubit mengambil kelewang (sejenis pedang) di dalam biliknya. Dia mengajak serta temannya Pang Leh, untuk berjihad melawan Pemerintah Kolonial Belanda.

Sasarannya malam itu adalah rumah dinas Tiggelman, Pejabat Controleur Belanda di pasar Seulimum. Controleur atau kontrolir adalah sebuah jabatang pemerintahan zaman Hindia Belanda, tugasnya sebagai penghubung antara Pemerintah Belanda dengan pribumi.

Tiba di Pasar Seulimum, Teungku Ubit dan Pang Leh menyusup ke rumah dinas Tiggelman. Mereka mengetuk pintu dan dibuka Tiggelmanm tanpa sadar pemuda tanggung yang datang ke rumahnya adalah ancaman nyata.

Tiggelman baru sadar ketika kelewang Teungku Ubit mendarat di tubuhnya. Dibacok berulang kali hingga rebah bersimbah darah. Setelah melakukan aksinya, Teungku Ubit dan Pang Leh kembali ke dayah dengan selamat.

Kejadian itu berlangsung di tahun terakhir keberadaan Belanda di Aceh. Pengaruh Jepang telah masuk, gelombang pemberontakan masyarakat Aceh mengusir Belanda terjadi di mana-mana.

Kini, setiap melewati pasar Seulimuem, kita bisa melihat rumah panggung bekas rumah dinas Controleur Tiggelman, tempat peristiwa pembacokan itu terjadi. Sekitar tahun 2008, Yayasan Bustanus Salatin Aceh membuat sebuah prasasti di halaman rumah tersebut. Isinya, berupa keterangan dalam tiga bahasa tentang pembunuhan Tiggelman oleh santri Aceh itu.

Kisah Jihad Santri Aceh Membunuh Controleur Belanda dengan Kelewang (1)
Tugu di depan rumah Controleur Belanda di Seulimum. Foto: Iskandar Norman

Berikut isinya:

Bak uroë 23 buleun Pebruari thon 1942, atawa watee saban ngon 4 Safar 1361 H, bak rumoh nyoe teujadi saboh peristiwa, Teuku Ubit umu 16 thon, sidroe aneuk muda beuhe dari dayah Keunaloe, ngon Pang Leh, bak teungoh malam geutak sampe mate ngon geuliwang Tiggelman, Kantiler Belanda di Seulimum.

(Pada tanggal 23 Februari 1942, bertepatan dengan 4 Safar 1361 H tengah malam di tempat ini terjadi peristiwa heroik, seorang siswa madrasah Islam Keunaloe, Teuku Ubit (16 tahun), bersama seorang kawannya Pang Leh, bersenjatakan sebilah kelewang, menyerang pejabat kolonial Belanda di Seulimum, Kontrolir Tiggelman hingga tewas).

Selamat Hari Santri Nasional 2021.

Penyumbang bahan: Is Norman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *