Kinerja Bank ‘Kakap’ Mengecewakan, Wall Street Kembali Keok!

  • Whatsapp

Jakarta, Sentra Berita Indonesia – Saham bank-bank besar di Wall Street anjlok pada perdagangan Jumat (14/1/2022) waktu setempat. Ini setelah sejumlah perusahaan melaporkan kinerja keuangan terbaru. Penurunan tersebut membebani pasar modal Amerika Serikat (AS) di mana Wall Street memulai tahun 2022 dengan catatan kinerja negatif dua minggu beruntun.

Bacaan Lainnya

Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 201,81 poin atau 0,56% menjadi 35.911,81. Kemudian S&P 500 naik tipis 0,08% menjadi 4.662,85, sedangkan indeks dengan komposisi perusahaan teknologi, Nasdaq, tidak terlalu mengalami dampak negatif dan mampu ditutup naik 0,59% ke level 14.893,75.

Kinerja saham bank, yang telah mengungguli kinerja indeks Wall Street dalam beberapa pekan terakhir karena sentimen kenaikan suku bunga, terpukul secara luas akibat laporan keuangan yang  mengecewakan investor. Walaupun metrik utama masih cukup kuat.

JPMorgan Chase, bank terbesar di AS dari sisi aset, melaporkan perolehan laba dan pendapatan yang melampaui perkiraan, tetapi sahamnya malah anjlok lebih dari 6%. Pendapatan perusahaan dibantu oleh rilis cadangan kredit yang besar. Meski demikian CFO Jeremy Barnum memperingatkan perusahaan kemungkinan akan gagal mencapai target laba utama dalam dua tahun ke depan.

Saham Citigroup turun hampir 1,3%. Perusahaan mampu melampaui perkiraan pendapatan tetapi menunjukkan penurunan laba hingga 26%. Saham Morgan Stanley dan Goldman Sachs, yang laporannya masih belum terbit hingga pekan depan, juga ikut turun.

Sementara itu, saham Wells Fargo naik hampir 3,7% setelah pendapatan bank melampaui ekspektasi. CEO Welss Fargo Charles Scharf mengatakan dalam rilisnya bahwa permintaan pinjaman meningkat pada paruh kedua tahun ini.

Saham Netflix melonjak lebih dari 1% setelah mengumumkan kenaikan harga untuk pelanggan AS dan Kanada, membantu kenaikan Nasdaq pada perdagangan Jumat.

Saham kasino adalah pemberat positif lainnya. Ini setelah pemerintah Makau mengumumkan hanya akan mengizinkan enam lisensi kasino di pusat perjudian itu. Saham Las Vegas Sands melonjak 14,1%, sementara Wynn Resorts naik 8,6%. Saham minyak juga mengungguli kinerja indeks akibat kenaikan harga minyak mentah.

Di sisi data perekonomian, penjualan ritel turun 1,9% pada bulan Desember, lebih buruk dari penurunan 0,1% yang diperkirakan oleh para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones. Pembacaan sentimen konsumen awal Januari dari University of Michigan lebih rendah dari yang diharapkan karena masyarakat AS melaporkan ekspektasi inflasi jangka panjang yang lebih tinggi.

Menanggapi laporan tersebut, saham konsumen non esensial berada di bawah tekanan di mana Bath & Body Works dan Under Armour turun lebih dari 2%. Saham Peloton turun hampir 2,6% setelah Nasdaq mengumumkan saham tersebut akan dikeluarkan dari indeks Nasdaq 100.

“Penyebaran varian Omicron baru-baru ini kemungkinan membebani penjualan, tetapi faktor lain juga dapat terjadi. Konsumen kemungkinan mengalihkan belanja dari [kunjungan toko] ke online ketika virus menyebar, tetapi penjualan non-toko turun 8,7% pada bulan Desember, ” kata ekonom JPMorgan Daniel Silver seperti dilansir Sentra Berita Internasional.

Ini merupakan awal yang sulit untuk tahun 2022 bagi investor. Saham teknologi turun tajam di minggu pertama tahun ini karena Bank Sentral AS atau The Fed mengisyaratkan pendekatan yang lebih agresif terhadap inflasi, disertai dengan kenaikan suku bunga.

Untuk minggu ini, Nasdaq turun 0,28%, sedangkan Dow dan S&P 500 masing-masing kehilangan 0,88% dan 0,30%. Ini menandai minggu negatif ketiga beruntun untuk Nasdaq.

Selanjutnya beberapa hal yang ikut terjadi di pasar modal AS pekan ini termasuk raksasa manajemen aset kekayaan BlackRock membukukan pendapatan yang mengalahkan pendapatan bottom-line tetapi sedikit meleset pada pendapatan top-line. Sahamnya pun turun sekitar 2,2%.

Pada hari Rabu, indeks harga konsumen menunjukkan lonjakan 7% secara tahunan, angka tertinggi dalam empat dekade. Laporan indeks harga produsen hari Kamis mencerminkan kenaikan 9,7% dibandingkan periode yang sama. Namun, hasil tersebut lebih baik daripada yang dikhawatirkan beberapa investor.

[Gambas:Video CNBC]

(fsd/fsd)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *