Khutbah Jumat: Rajin Shalat Tapi Tidak Bisa Disebut Mukmin, Kok Bisa?

  • Whatsapp

Khutbah Jumat I: Rajin Shalat Tapi Tidak Bisa Disebut Mukmin

اَلْحَمدُ للهِ الَّذِى اَمَرَناَ بِاتِّبَاعِ اْلحَقِّ ِفى كُلِّ اُمُرٍ, أَشْهَدُاَنْ لاَاِلٰهَ اِلاَّالله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَهَادَةً عَبْدٍشَكُوْرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِه وَصَحْبِهِ عَلىَ مَمَرِّالدُّهُوْرِ. ﴿أَمَّا بَعْدُ﴾ فَيَا عِبَادَ اللهِ. إِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin Hafidzakumullah,

Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah SAW pernah bersabda, “akan datang suatu zaman di mana orang-orang berkumpul di masjid untuk shalat berjama’ah tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang mukmin.”

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW bersabda, “Nanti akan datang suatu zaman di mana seorang muazin melantunkan azan, kemudian orang-orang menegakkan shalat, tetapi di antara mereka tidak ada yang mukmin.”

Dua hadis ini seolah menghentakkan kesadaran kita dan mengundang tanya kenapa shalat yang mereka lakukan tidak dianggap sebagai tanda orang mukmin? Dan mengapa orang yang melakukan shalat di masjid itu tidak dihitung sebagai mukmin? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab dengan terlebih dahulu kita mengetahui ciri-ciri orang mukmin.

Ma’asyiral Muslimin Hafidzakumullah,

Dalam hadis-hadis Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW dalam konteks yang berlainan bersabda, “Orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia menghormati tetangganya,” “Orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaknya dia senang menyambungkan tali silaturahim,” “Orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaknya dia berbicara yang benar; dan kalau tidak mampu berbicara dengan benar, maka lebih baik dia berdiam diri,” “Seseorang tidak dianggap sebagai mukmin apabila ia tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.”

Ma’asyiral Muslimin Hafidzakumullah,

Empat hadis ini paling tidak menunjukkan arti bahwa tanda seorang muslim itu dilihat dari tanggung jawabnya di tengah-tengah masyarakatnya. Kalau dia menghormati tetangganya, menyambungkan tali persaudaraan, dan berbicara dengan benar, atau memiliki keprihatinan di antara penderitaan yang dirasakan oleh saudaranya di sekitarnya, maka barulah dia boleh dikatakan sebagai seorang mukmin.

Jadi dengan kata lain, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa nanti akan datang suatu zaman, orang-orang berkumpul di masjid untuk mendirikan shalat tetapi tidak akur dengan tetangganya, yaitu tidak menyambungkan tali persaudaraan di antara kaum muslim. Mereka menyebarkan fitnah dan tuduhan yang tidak layak terhadap muslim.

Mereka melaksanakan dan rajin shalat tetapi tidak sanggup mengatakan kalimat yang benar. Mereka melakukan shalat tetapi acuh tak acuh dengan penderitaan yang dirasakan oleh sesamanya. Kata Rasulullah, mereka adalah orang yang rajin shalat, tetapi sebetulnya tidak dihitung sebagai orang yang melakukan shalat.

Ma’asyiral Muslimin Hafidzakumullah,

Setiap ibadah yang bersifat ritual selalu mengandung pesan moral yang menjunjung tinggi berbagi kebaikan terhadap sesama. Dalam shalat, keimanan sebagai ekspresi menjalin hubungan baik dengan Allah dilambangkan dalam bacaan takbir, pembukaan shalat yang sering disebut sebagai takbirat al-ihram. Takbiratul ihram menyimbolkan secara langsung hubungan kita dengan Allah SWT.

Dengan takbir ini, orang yang shalat menyatakan dirinya hendak menghadap Allah. Karenanya, keseluruhan bacaan dan tingkah laku dalam sembahyang merupakan dialog dan komunikasi langsung dengan Tuhan. Kesemuannya itu menghasilkan penghayatan mendalam akan situasi diri yang sedang berada di hadapan Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.

Kemudian shalat itu diakhir dengan membaca salam, yaitu ucapan atau bacaan doa yang sebenarnya melambangkan keharusan untuk mengejawantahkan hubungan baik dengan Allah SWT dalam praksis kehidupan nyata, yakni selalu berusaha untuk peka terhadap sekeliling kita, peka terhadap kehidupan sosial.

Ma’asyiral Muslimin Hafidzakumullah,

Ucapan salam itu berarti doa dan harapan kepada Allah agar orang lain bahagia dan damai selalu. Ucapan salam ini merupakan lambang komitmen sosial yang tinggi dari seorang yang mengucapkannya. Mengucapkan salam di akhir ritual shalat diperkuat juga oleh anjuran (tidak wajib) untuk menengok ke kanan dan ke kiri, sebagai peringatan bahwa setiap orang yang beribadat harus memiliki komitmen sosial yang tinggi dengan senantiasa memperhatikan kondisi sosial-ekonomi  masyarakat sekeliling.

Dengan demikian, shalat yang dibarengi dengan aksi sosial yang nyata akan menjadikan seseorang sebagai orang-orang benar beriman kepada Allah SWT dan shalat yang tidak dibarengi oleh komitmen sosial yang tinggi akan menjerumuskan seseorang ke dalam kungkungan label pendusta agama dan implikasinya, ia dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak beriman.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Jumat II: Rajin Shalat Tapi Tidak Bisa Disebut Mukmin

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْم: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Baca juga artikel/teks khutbah Jumat yang lain di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *