Kemenkes Pastikan Varian Omicron Belum Menyebar di Tengah Masyarakat |SentraBerita

  • Whatsapp

Kemenkes mengatakan belum terjadi transmisi komunitas penyebaran omicron.

SentraBerita.com, JAKARTA — Hingga hari ini sudah ditemukan 19 kasus Covid-19 dengan varian omicron di Indonesia. Meski demikian, Kementerian Kesehatan memastikan varian baru itu belum menyebar di tengah-tengah masyarakat (transmisi komunitas).

Bacaan Lainnya

Kasus pertama dengan varian omicron diketahui menjangkiti seorang petugas kebersihan di Wisma Atlet berinisial N. Padahal, pria ini tak pernah bepergian keluar negeri. Kasus pertama ini diumumkan Kemenkes pada 16 Desember lalu.

Belakangan diketahui bahwa N terjangkit dari seorang WNI yang baru tiba dari Nigeria dan menjalani karantina di Wisma Atlet. WNI dari Nigeria itu kini telah sembuh.

Adapun pelacakan kontak erat terhadap N berhasil ditemukan 10 kasus positif pada Ahad (19/12) lalu. Kemenkes lantas melakukan pengujian sampel terhadap 10 pasien itu dengan cara Whole Genome Sequencing (WGS) untuk memastikan apakah mereka juga terinfeksi varian omicron atau tidak.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, hasil pengujian WGS terhadap 10 pasien itu belum rampung. “Hasilnya belum keluar,” kata Nadia kepada SentraBerita.com, Sabtu (25/12).

Sementara itu, 18 kasus varian omicron lainnya memang merupakan pelaku perjalanan luar negeri dari berbagai negara. Dengan demikian, Nadia memastikan bahwa virus corona varian omicron belum menyebar di tengah-tengah masyarakat Indonesia.


“Belum terjadi transmisi komunitas,” kata Nadia.

Sedangkan Ahli Virologi Universitas Udayana I Gusti Ngurah Kade Mahardika meyakini sudah ada transmisi komunitas varian omicron. “Saya yakin sudah terjadi transmisi komunitas. dan saya lihat tidak sekali saja (varian Omicron) masuk ke Indonesia. Ada kemungkinan multiple introduction,” kata Mahardika kepada SentraBerita.com, Kamis (16/12).

Menurut Mahardika, saat ini cara yang dilakukan oleh Pemerintah yakni pemantauan atau monitor terhadap mutasi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dengan WGS tidaklah efektif. Hal itu lantaran lamanya durasi waktu yang dibutuhkan untuk sekedar mengetahui varian apa saja yang terdeteksi.

“Waktu yang diperlukan dari sampel diambil sampai sequence 14 hari. Dia (N) pun sudah hampir 10 hari. Artinya virusnya sudah lebih itu sebelum ketahuan. Nah, apakah yang bersangkutan (N) sudah sempat menulari. Jadi menurut saya virus itu sudah menular di komunitas, “jelasnya.

Ia pun memperingatkan adanya puncak gunung es pada penyakit menular yakni apa yang terlihat saat ini hanyalah bagian kecil dari yang tidak terlihat. Karena, masih banyak hal yang belum diketahui mengenai virus yang menular dengan cepat tersebut.


“Asumsi para ahli ada kasus yang belum terlihat,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *