Kabar Corona Dunia: Kasus di Eropa Kembali Naik hingga 0 Kematian di New Delhi

  • Whatsapp

Seorang wanita berjalan melewati ambulans yang diparkir di luar Rumah Sakit di Saint Petersburg, Rusia (17/6). Foto: Alexander Demianchuk/TASS via Reuters
kumparan merangkum kabar corona dunia pada Senin (19/7). Mulai dari lonjakan kasus di Eropa akibat varian delta hingga 0 kematian harian di New Delhi, India.

Hingga saat ini penularan COVID-19 masih terjadi. Tercatat jumlah kasus positif global mencapai 191.322.425 jiwa di mana 4.108.240 di antaranya meninggal dunia.

Amerika Serikat, India dan Brasil masih menjadi tiga negara terdampak parah COVID-19. Jumlah kasus positif di masing-masing tiga negara itu di atas 19 juta jiwa.

Berikut kumparan rangkum kabar corona dunia:

Petugas medis membawa pasien virus corona dari ambulans menuju rumah sakit S Thomas di London, Inggris. Foto: REUTERS/Hannah McKay

Tren COVID-19 Eropa Kembali Melonjak, Varian Delta Jadi Penyebab

Kasus corona di negara-negara benua Eropa sempat menunjukkan tren penurunan infeksi dan kematian pada April hingga Juni lalu. Tetapi kini grafiknya mulai kembali menanjak dalam sepekan terakhir.

Dari 47 negara dan wilayah dependensi di Eropa, tercatat total kasus COVID-19 dalam sepekan terakhir mencapai 874.322 infeksi.

Sementara dalam kurun waktu satu pekan sebelumnya, kasus kumulatif tercatat 645.841 infeksi. Berarti, tren kasus mengalami peningkatan hingga 35%.

Kematian juga mengalami tren peningkatan. Dalam sepekan terakhir, seluruh negara dan wilayah Eropa melaporkan jumlah kematian hingga 6.690 jiwa. Sepekan sebelumnya, tercatat ada 6.412 kematian. Sehingga, terjadi peningkatan sebesar 4%.

Prancis menjadi salah satu negara Eropa dengan tren peningkatan kasus yang sangat tinggi dalam satu pekan terakhir, yakni hingga 108%. Bahkan, pada tiga hari belakangan, penambahan kasus corona harian negara ini selalu berada di atas angka 10.000 infeksi.

Dalam sepekan terakhir, Prancis melaporkan total kasus sebanyak 55.091 infeksi. Ini melonjak dengan signifikan, mengingat sepekan sebelumnya tercatat hanya 26.436 infeksi.

Begitu pula dengan negara-negara maju lainnya seperti Austria (peningkatan 143%), Italia (103%), Swiss (89%), Denmark (76%), Belanda (78%), Jerman (62%), Britania Raya (44%), Spanyol (35%), dan Portugal (20%).

Total ada 37 negara dan wilayah dependensi yang mengalami tren lonjakan kasus COVID-19 dalam sepekan terakhir, sementara 10 lainnya mengalami penurunan.

Sementara, tren kematian di sejumlah negara besar juga mengalami peningkatan, seperti Denmark (50%), Britania Raya (39%), Belanda (22%), dan Portugal (16%).

Ilustrasi kawasan hiburan malam di Clarke Quay di Singapura. Foto: Ore Huiying/Getty Images

Kasus COVID-19 Melonjak, Singapura Minta Lansia Belum Divaksin Tak Keluar Rumah

Kementerian Kesehatan Singapura sangat menganjurkan warga yang belum divaksin, khususnya lansia, untuk tetap di rumah selama beberapa pekan ke depan.

Anjuran ini disampaikan menyusul melonjaknya kasus COVID-19. Pada Minggu (18/7/2021), Kemenkes melaporkan penambahan 88 kasus baru. Jumlah itu merupakan yang terbesar sejak Agustus 2021.

Untuk menekan laju penyebaran COVID-19, Pemerintah Singapura menargetkan perluasan vaksinasi khususnya ke kelompok lansia.

Saat ini, sudah 73 persen dari 5,7 juta penduduk Singapura yang mendapat vaksin COVID-19 dosis satu. Namun, lansia menjadi kelompok penerima vaksin paling rendah.

Data Kemenkes Singapura 71 persen lansia di atas 70 tahun belum disuntik vaksin. Oleh karenanya, Singapura mendorong agar lansia untuk segera mendapat vaksin.

Sementara itu, lonjakan COVID-19 di Singapura terjadi sejak pekan lalu. Lonjakan disebabkan menyebarnya varian Delta serta munculnya dua klaster besar yaitu karaoke dan pasar ikan.

Perenang berenang di Serpentine Lido di Hyde Park, London. Foto: Tolga AKMEN / AFP

Meski Kasus COVID-19 Makin Meroket, Inggris Tetap Cabut Pembatasan Kegiatan

Pemerintah Inggris per Senin (19/7/2021) akhirnya memberlakukan kebijakan kontroversial. Seluruh pembatasan kegiatan terkait COVID-19 resmi dicabut.

Kelab malam kini sudah bisa beroperasi kembali. Beberapa tempat indoor pun diizinkan dipakai dengan kapasitas penuh.

Pemakaian masker dan bekerja dari rumah yang sempat wajib dilakukan sudah resmi dihentikan. Perdana Menteri Boris Johnson menyatakan, pencabutan aturan-aturan terkait COVID-19 adalah hari kebebasan.

Agar pencabutan aturan kegiatan berjalan lancar, Johnson meminta warga yang belum divaksin untuk segera disuntik vaksin. Sebab, saat ini adalah waktu tepat membuka seluruh kegiatan yang tadinya sempat dilarang.

“Bila kami tak melakukan sekarang, maka kami akan membuka ini semua pada Musim Gugur, dan bulan-bulan di Musim Dingin. Itu akan membuat virus itu mengambil keuntungan dari udara dingin,” ucap Johnson.

“Jika tak sekarang, kita harus bertanya pada diri sendiri, kapan ini akan dilakukan? jadi ini waktu tepat, kita harus melakukan ini dengan hati-hati,” sambung dia.

PM Inggris Boris Johnson Foto: Reuters/Hannah Mckay/

Langkah Pemerintahan Johnson membuka segala aktivitas, mendapat penolakan dari oposisi dan ahli medis. Mereka sepakat menyatakan, pembukaan kegiatan tak boleh dilakukan saat kasus tengah meroket.

Saat ini Inggris mengalami lonjakan kasus COVID-19 yang disebabkan menyebarnya varian Delta. Rata-rata penambahan kasus harian telah mencapai 50 ribuan.

Ahli medis Inggris bahkan memprediksi beberapa waktu ke depan penambahan kasus bisa mencapai 100 ribu per hari.

Warga melintas di bawah pesan kesehatan masyarakat tentang jarak sosial di pusat pemberlanjaan saat pemberlakuan lockdown di Sydney, Australia. Foto: REUTERS/Loren Elliott

Berkat Lockdown Ketat, Kasus COVID-19 di Sydney dan Melbourne Mulai Menurun

Kasus penularan lokal COVID-19 di dua kota besar Australia, Sydney dan Melbourne, mulai menunjukkan penurunan. Hal itu terjadi di tengah lockdown ketat.

Negara bagian New South Wales (NSW) melaporkan penambahan kasus harian pada Senin (19/7) sebanyak 98 kasus, berkurang 7 kasus dari hari sebelumnya. Sebagian besar dari kasus tersebut berpusat di Kota Sydney.

Jumlah kasus positif yang sempat berkontak dengan masyarakat sebanyak 20 kasus. Jumlah ini cenderung statis dan sama dengan hari-hari sebelumnya.

“Jumlah 20 kasus itu adalah jumlah yang sangat ingin kami tekan … semakin dekat jumlahnya ke angka 0, semakin cepat juga kita bisa mengakhiri lockdown ini,” ujar Menteri Utama NSW, Gladys Berejiklian.

Meskipun penambahan kasus pada hari ini menurun, menurut Berejiklian, NSW baru akan bisa melihat efek dari lockdown ketat Sydney dalam empat hingga lima hari ke depan.

Kebijakan lockdown Sydney pertama diberlakukan pada 26 Juni lalu, beberapa hari setelah ditemukannya kasus varian Delta pertama. Setelah mengalami perpanjangan hingga dua kali, lockdown ketat ini dijadwalkan akan dicabut pada 30 Juli mendatang.

Warga berbelanja di pasar di Bangladesh menjelang Idul Adha. Foto: Mahmud Hossain Opu/AP

Kasus COVID-19 Terus Melonjak, Bangladesh Malah Cabut Lockdown Jelang Idul Adha

Keputusan kontroversial diambil Pemerintah Bangladesh. Di tengah lonjakan kasus COVID-19 mereka memutuskan untuk mencabut lockdown.

Kebijakan itu berlaku demi menyambut hari raya Idul Adha. Dalam tradisi di Bangladesh, Idul Adha adalah salah satu peringatan keagamaan terbesar.

Rencana pencabutan lockdown diumumkan sejak pekan lalu. Pemerintah menyatakan, lockdown bakal dilonggarkan sejak Rabu 15 Juli sampai 23 Juli 2021.

Menurut perkiraan perayaan Idul Adha di Bangladesh jatuh pada 20 Juli 2021. Namun, peringatan hari besar itu akan berlangsung selama tiga hari sampai 22 Juli 2021.

Pemerintah Bangladesh menegaskan, selama 15-23 Juli segala bentuk kegiatan perekonomian akan dibuka seperti sebelum lockdown. Pemerintah berharap langkah itu akan mendorong kembali normalnya perekonomian.

Di samping membuka ekonomi, Pemerintah memperbolehkan mudik. Diprediksi ada 10 juta orang warga Bangladesh yang bakal pulang kampung.

Polisi Prancis menghentikan kendaraan untuk memeriksa dokumen pengecualian dan identitas saat lockdown di daerah Bois de Boulogne, di Paris, Prancis. Foto: Christian Hartmann/Reuters

Tiga Hari Beruntun Penambahan Kasus COVID-19 di Prancis di Atas 10 Ribu

Lonjakan kasus COVID-19 terjadi di Prancis. Selama tiga hari berturut-turut penambahan kasus baru selalu di atas 10 ribu.

Pada Minggu (18/7/2021) Kementerian Kesehatan Prancis melaporkan penambahan 12.532 kasus baru. Dengan penambahan tersebut, total kasus infeksi COVID-19 di Prancis mencapai 5,87 juta.

Pada Sabtu (18/7/2021) Prancis mencatatkan 10.949 kasus. Sedangkan sehari sebelumnya atau Jumat (17/7/2021) penambahan kasus sebanyak 10.908.

Saat ini, 891 orang di Prancis dirawat ICU akibat terinfeksi virus corona.

Sementara itu, jumlah korban jiwa COVID-19 di Prancis sudah mencapai 111.472. Pada hari Minggu lalu, korban jiwa COVID-19 bertambah lima orang.

Memasuki pertengahan Juli tren COVID-19 di Eropa kembali naik. Sebelumnya dari April hingga awal Juni, kasus corona di Benua Biru sempat memperlihatkan penurunan.

Seekor Bangau terlihat di dalam kandangnya di Kebun Binatang dan Taman Botani Saigon, Ho Chi Minh, Vietnam. Foto: Yen Duong/REUTERS

Vietnam Lockdown Belasan Provinsi, 33 Juta Orang Tak Boleh Keluar Rumah

Vietnam berjibaku dengan penularan COVID-19 yang sangat masif. Setelah terjadi penambahan infeksi harian hingga 5.926 kasus pada Minggu (18/7), Pemerintah setempat menerapkan lockdown ketat di belasan provinsi di selatan Vietnam.

Mulai Senin (19/7), sekitar sepertiga dari 100 juta penduduk negara ini (33,3 juta) diperintahkan untuk diam di rumah dan tak boleh keluar.

Seluruh toko yang tidak menjual kebutuhan pokok dipaksa ditutup, dan kerumunan hingga lebih dari lima orang di tempat umum dilarang sepenuhnya.

“Perintah dari Pemerintah datang sangat cepat. Tetapi, saya sepenuhnya setuju. Kami lebih memilih kebijakan yang berat seperti ini untuk menghindari skenario yang sama dengan yang terjadi di Kota Ho Chi Minh,” ujar seorang warga, Nguyen Thanh Van.

“Kami berhasil memenangkan perang-perang [melawan COVID-19] sebelumnya. Tetapi, pertempuran kali ini memang sulit,” lanjutnya.

Episentrum gelombang COVID-19 Vietnam kali ini berlokasi di Kota Ho Chi Minh, pusat bisnis negara tersebut. Ho Chi Minh dan dua provinsi terdekat, Binh Duong dan Dong Nai, sudah menerapkan lockdown selama lebih dari sepekan.

Tetapi, akibat kasus masih belum menurun juga, Pemerintah Vietnam memutuskan untuk juga memberlakukan lockdown di 16 provinsi lainnya.

Pekerja membawa barang di area pasar setelah pihak berwenang melonggarkan pembatasan di New Delhi, India, Senin (7/6). Foto: Adnan Abidi/REUTERS

Kematian Harian COVID-19 India Menurun, New Delhi Laporkan 0 Pasien Meninggal

Kabar baik COVID-19 datang dari India. Di samping angka kasus harian yang terus mengalami penurunn, kematian akibat corona juga merosot di bawah 500 jiwa.

Menurut data Kementerian Kesehatan India, pada Senin (19/7), tercatat 499 kematian dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Total jumlah pasien meninggal akibat COVID-19 kini mencapai 414.108 jiwa.

Sementara, penambahan kasus harian mencapai 38.164 infeksi. Total kasus kumulatif India sejak awal pandemi hingga sekarang mencapai 31,1 juta kasus.

“Kasus aktif India sekarang berada pada angka 421.665. Persentase kasus aktif ini adalah 1,35% dari total kasus,” ujar Kemenkes India.

Laporan itu juga mengungkap kabar baik dari Ibu Kota India, New Delhi. Kota yang sebelumnya menjadi episentrum gelombang kedua pandemi India ini mencatat 0 kematian pada Minggu (11/7).

“Tak ada kematian yang dilaporkan di New Delhi akibat COVID dalam 24 jam terakhir,” ujar Menteri Kesehatan India, Satyendar Jain, lewat cuitan di akun Twitter resminya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *