Jika Setan Berkembang Biak Sesaat Sebelum Kiamat, Apa Anak Setan Itu Harus Masuk Neraka?

  • Whatsapp

SentraBerita.com – Premis awalnya adalah semua setan masuk neraka, lah kalau ada anak setan lahir sesaat sebelum kiamat, ia nanggung dosa orang tuanya nggak?

Sebelum pamit usai sowan ke kediaman Kiai Kholil, Gus Mut punya pertanyaan usil untuk bapaknya itu. Bukan sebuah pertanyaan yang Gus Mut ingin benar-benar tahu sebenarnya, tapi pertanyaan untuk menjebak logika bapaknya.

Bacaan Lainnya

“Pak, Bapak tahu kan kalau ada riwayat bahwa jin dan setan itu juga berkembang biak?” tanya Gus Mut.

Kiai Kholil diam sejenak.

“Maksudmu tanya begitu apa, Mut?” tanya Kiai Kholil.

“Ya, cuma memastikan aja kalau Bapak tahu, Bapak masih inget nggak,” kata Gus Mut.

“Kamu meremehkan bapakmu itu namanya,” kata Kiai Kholil sambil tersenyum kecil.

Gus Mut jadi ikut terkekeh mengingat keraguannya soal pengetahuan Kiai Kholil.

Kiai Kholil cuma terdiam, lalu menyimak.

“Begini, Pak. Tuhan kan maha adil nih,” kata Gus Mut.

“Iya,” jawab Kiai Kholil.

“Oke, terus katanya setan itu sudah pasti masuk neraka,” lanjut Gus Mut.

Kiai Kholil terdiam, mendengarkan dengan seksama.

“Lah, setan ini kan bisa berkembang biak,” terus Gus Mut.

Kiai Kholil manggut-manggut pelan.

“Terus nanti ada hari kiamat, sehingga semua makhluk diadili,” Gus Mut lantas membenarkan letak duduknya untuk memberi pertanyaan pamungkasnya.

“Sekarang apa yang akan terjadi ketika setan berkembang biak satu detik sebelum kiamat, yang artinya belum sempat melakukan dosa-dosa atau apapun perbuatan yang menyebabkan ia bisa masuk neraka? Apa dia bakal masuk neraka seperti orang tuanya?” tanya Gus Mut.

Kiai Kholil tersenyum sejenak. Sadar kalau pertanyaan ini pertanyaan jebakan dari anaknya.

“Gimana, Pak? Paradoks kan itu? Di satu sisi Tuhan itu maha adil, padahal kalau setan baru lahir baru beberapa saat sebelum kiamat dan belum melakukan dosa berarti itu melanggar premis maha adil-Nya Tuhan, tapi kalau anak setan masuk surga berarti premis bahwa setan pasti masuk neraka itu keliru. Hayooo, gimana coba itu, Pak?” tanya Gus Mut.

Kiai Kholil masih tersenyum kecil penuh misteri.

“Sebentar,” kata Kiai Kholil, “kamu memang sudah pernah bisa menjawabnya?” tanya Kiai Kholil.

Gus Mut terkekeh.

“Ya, belum. Saya juga buntu, Pak, sama pertanyaan itu. Serba-salah gitu sepertinya. Gini bisa salah, gitu juga bisa salah,” kata Gus Mut.

“Oke, beri Bapak waktu sebentar,” kata Kiai Kholil.

Sembari menunggu, Gus Mut menghabiskan kopi di hadapannya. Sebelum pulang, nanggung, habisin aja kopinya.

“Aku mau tanya dulu boleh, Mut?” tanya Kiai Kholil.

“Boleh,” kata Gus Mut.

“Oke, kita sepakat soal riwayat setan bisa berkembang biak ya? Sekarang aku tanya, serius ini,” kata Kiai Kholil.

“Iya?”

“Menurutmu setan berkembang biaknya gimana?” tanya Kiai Kholil.

Tiba-tiba seperti ada aliran listrik yang menyetrum isi kepala Gus Mut.

“Hah?” Gus Mut mendadak jadi terpaku mendengar pertanyaan itu.

“Ini penting untuk didetailkan, Mut. Itu kamu mengasumsikan setan berkembang biak itu kayak manusia berarti kan ya?” tanya Kiai Kholil lagi.

“Eh? Iya juga ya,” kata Gus Mut malah jadi bingung sendiri.

“Asumsi dari mana kamu kalau setan melahirkan kayak manusia?” tanya Kiai Kholil.

“Eee, ya kan riwayatnya jelas kalau setan itu berkembang biak….”

“Iya berkembang biak,” potong Kiai Kholil, “tapi berkembang biak kan nggak melulu melahirkan. Asumsimu soal setan kalau berkembak biak pasti melahirkan itu yang mesti dipertanyakan dulu.”

Kiai Kholil mendadak jadi semangat lalu langsung meneruskan.

“Sebentar, jangan-jangan itulah yang bikin pertanyaanmu jadi paradoks sebenarnya. Karena anak yang dilahirkan pakai normalnya cara manusia itu suci, sedangkan setan itu kita sama-sama nggak tahu, makanya jadi ruwet tadi pertanyaanmu. Padahal kan setan belum tentu melahirkan juga,” lanjut Kiai Kholil.

“Memang cara berkembang biak selain melahirkan itu apa? Kun fayakun tiba-tiba nongol gitu? Ya itu kan bukan berkembang biak namanya, Pak, itu namanya penciptaan,” kata Gus Mut.

“Ya kan ada, makhluk yang nggak gaib yang nggak perlu melahirkan untuk bisa berkembang biak,” kata Kiai Kholil.

“Lah, apa? Memangnya apa?” tanya Gus Mut.

“Membelah diri misalnya,” kata Kiai Kholil polos, “itu kan berkembang biak juga.”

Gus Mut tiba-tiba terpaku. Pertanyaan iseng yang sebenarnya cuma buat asyik-asyik itu malah benar-benar bisa dijawab oleh bapaknya. Bukan dengan jawaban, tapi mempertanyakan balik sehingga ditemukan ada yang keliru dari pertanyaan Gus Mut sejak awal.

“Berarti Bapak mengasumsikan kalau setan itu membelah diri?” tanya Gus Mut.

“Ya aku nggak tahu, kan aku belum pernah jadi setan, lagian juga nggak ada riwayat atau ayat soal detail itu. Itu kan sama nggak berdasarnya aja sama premis kalau setan melahirkan,” kata Kiai Kholil yang disambut Gus Mut terkekeh.

“Lagian Memangnya kamu tahu dari mana kalau setan itu melahirkan? Memang kamu pernah jadi setan?” Kiai Kholil bertanya lagi ke Gus Mut.

Gus Mut terkekeh.

“Ah, udah ah, saya pamit pulang dulu, Pak, hahaha,” kata Gus Mut berdiri lalu mencium punggung tangan bapaknya.


*) Diolah dari cerita Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe).

BACA JUGA Kalau Dia Maha Pengampun Kenapa Harus Ada Neraka? dan kisah-kisah Gus Mut lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *