In The Heights: Perayaan Hidup dan Mimpi yang Spektakuler

  • Whatsapp
Jakarta

Film musikal memang bukan untuk semua orang. Tidak semua orang bisa menikmati tontonan dimana karakternya tiba-tiba menyanyi ketika emosi menguasainya. Tapi jika Anda berani untuk menikmatinya, film musikal akan membawa Anda ke sebuah pengalaman yang sungguh mengasyikkan. Lebih dari itu, Anda mungkin akan terbawa dengan dunia yang ada di dalamnya. In The Heights, sebuah musikal yang diadaptasi dari teater Broadway berjudul sama, memberikan itu semua.

Bacaan Lainnya

Mengambil setting di pojokan Washington Heights di New York, In The Heights adalah sebuah film ensemble dengan tokoh-tokoh latin yang mempunyai mimpi masing-masing. Karakter utamanya adalah Usnavi (Anthony Ramos yang lulus dari sekolah drama Lin Manuel Miranda dalam Hamilton) yang bermimpi untuk pulang ke kampung halamannya, membangun usaha ayahnya. Saat ini Usnavi menjaga bodega (semacam toko kelontong) bersama sepupunya, Sonny (Gregory Diaz IV).

Selain Usnavi juga ada Abuela Claudia (Olga Merediz) yang bukan nenek siapa-siapa tapi menganggap semua orang yang ada di sekitarnya adalah saudaranya. Ada juga Nina (Leslie Grace) yang memutuskan untuk berhenti dari kuliahnya karena dia tidak mau membebani ayahnya, Kevin Rosario (Jimmy Smits). Tentu saja cinta selalu ada dalam kisah ini. Ada Benny (Corey Hawkins) yang naksir berat dengan Nina Usnavi sendiri juga naksir dengan Vanessa (Melissa Barrera), seorang aspiring fashion designer. Saat ini Vanessa bekerja di salon milik Daniela (Daphne Rubin-Vega).

Tidak ada sebuah misi yang besar seperti menyelamatkan dunia atau mengejar cinta yang begitu menggebu-gebu dalam In The Heights. Tidak ada upaya untuk menyelamatkan bisnis mereka dengan dramatis seperti The Greatest Showman. Dalam In The Heights kita diajak untuk berkenalan selama tiga hari, sampai lampu mati yang melumpuhkan aktivitas mereka. Tapi inilah hidup. Dimana mimpi menjadi harapan yang paling bersinar dan cinta menjadi penyemangat.

Membawa Jon M. Chu sebagai kapten In The Heights adalah keputusan terbaik karena meskipun dia terkenal dengan Crazy Rich Asians (yang berhasil membuat banyak orang percaya dengan genre romantic comedy lagi), Chu adalah sutradara yang sudah tidak asing dengan kisah para pemimpi. Chu yang pernah membuat Step Up 2: The Streets dan Step Up 3D tahu jelas bagaimana cara merekam orang-orang yang menari, berjoget dan bergerak tanpa kehilangan esensi koreografi yang kompleks.

Skrip yang diadaptasi oleh Quiara Alegria Hudes dari skrip Broadway-nya sendiri memang sudah baik. Dia berhasil menceritakan kisah semua karakter ini tanpa ada ketimpangan. Semua karakter tampak hidup. Musik-musik yang ada di dalamnya tidak hanya mengisi cerita yang ada di dalmnya tapi mereka menjadi bagian penting dalam film ini. Skrip yang baik ini kemudian diadaptasi dengan penuh semangat menggebu-gebu oleh Chu.

Bersama sinematografer Alice Brooks, In The Heights adalah sebuah perayaan hidup yang sungguh penuh semangat. Energi yang ada di dalamnya benar-benar terpancar dan saya pun ikut-ikutan kena efeknya. Lebih dari sekali saya ikut menggoyangkan badan dan mengangguk-angguk saat karakter-karakter ini bernyanyi penuh suka cita. Warna yang ada di dalamnya sangat kaya. Editingnya sangat lincah. Tidak ada satu pun momen musikal yang kendor. Saat menyaksikannya, Anda akan bingung memilih bagian mana yang akan menjadi favorit.

Film musikal adalah jenis film yang dibuat. Aktor-aktornya harus benar-benar multi-talenta. Mereka tidak hanya harus bisa menari tapi juga menyanyi tanpa mengorbankan kemampuan akting. Dalam In The Heights, tidak ada satu pun aktor yang salah casting. Semuanya sempurna. Anthony Ramos berhasil membuat Usnavi menjadi sangat charming. Dia bisa terlihat konyol dan penuh rasa tidak percaya diri tapi ia juga bisa menunjukkan sisi Usnavi yang penuh akan harapan dan percaya diri. Melissa Barrera sebagai Vanessa juga sangat mencuri perhatian. Tapi sebenarnya, hampir semua pemain In The Heights sangat mencuri perhatian. Leslie Grace, Corey Hawkins, Gregory Diaz IV. Mereka semua meloncat keluar dari layar. Sementara itu para pemain seniornya seperti Daphne Rubin-Vega, Jimmy Smits sampai Olga Merediz sudah tidak usah dipertanyakan lagi kualitas mereka.

In The Heights mungkin bukan film yang Anda bisa langsung relate karena film ini sangat spesifik dalam merepresentasikan karakter-karakternya yang jelas mempunyai identitas yang kuat. Tapi menyaksikan orang-orang ini berinteraksi, bermimpi dan hidup membuat In The Heights menjadi salah satu film paling memuaskan tahun ini. Menyaksikannya di kegelapan teater adalah satu-satunya cara untuk merasakan gegap gempitanya yang paripurna.

In The Heights dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(dar/dar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *