Harga Batu Bara Effect, Harga Semen Ikutan Terbang!

  • Whatsapp

Jakarta, Sentra Berita Indonesia – Harga batu bara yang meroket ternyata berdampak buruk pada industri semen. Kenaikan harga batu bara membuat ongkos produksi semen semakin mahal.

Bacaan Lainnya

Belum lagi banyak produsen batu bara mangkir dari kewajiban menyuplai kebutuhan industri dalam negeri. Sehingga pasokan batu bara untuk pabrikan semen semakin menipis. Imbas terburuk makin banyak pabrikan semen yang menyetop produksi.

Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso, menjelaskan dua dampak kenaikan harga batu bara ini terhadap industri semen.

Pertama, kenaikan harga batu bara global sudah naik dua kali lipat hingga September menjadi US$ 200 dollar per ton. Membuat harga batu bara untuk industri semen juga melonjak. Dari sebelum akhir 2020 antara Rp 550 – 600 ribu per ton, kini naik Rp 1,1 – 1,2 juta per ton.

Widodo menjelaskan biaya bahan bakar menggunakan batu bara memakan 30% dari ongkos pembuatan semen. Naiknya harga batu bara akan berimbas pada membengkaknya ongkos pembuatan semen, yang diestimasi 25%-30%. Ujungnya harga semen di pasar juga akan meningkat.

“Akan terjadi lonjakan harga semen, kalau tidak naik harga maka akan collapse (tumbang),” katanya dalam Evening Up Sentra Berita Indonesia, Jumat (22/10/2021).

Kedua, adalah pasokan batu bara untuk pabrikan semen semakin sedikit. Sehingga banyak pabrikan semen yang mematikan pabriknya karena stok batu bara hanya bertahan hanya 10 hari, padahal biasanya pabrikan mengamankan stok batu bara sampai 30 hari.

“Pasokan luar biasa seret, jadi banyak anggota kami mematikan pabrik misalnya punya pabrik empat dimatikan satu, punya pabrik lima dimatikan dua,” katanya.

“Mereka takut karena supply dalam negeri kurang,” lanjutnya.

Dia meminta pemerintah menerapkan Domestic Market Obligation (DMO) untuk industri semen, supaya bisa penuhi kebutuhan dalam negeri. Widodo mengatakan DMO sangat dibutuhkan karena konsumsi semen pada Q4 terjadi lonjakan yang besar karena penyelesaian proyek pemerintah.

“Paling tidak demand-nya di Q4 naik 15%,” katanya.

[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *