Dusun Angker: Kerasukan Iblis Jahat (Part 9)

  • Whatsapp
Dusun Angker: Kerasukan Iblis Jahat (Part 9)
Ilustrasi Desa Angker, dok: Pixabay

Sosok nenek tersebut kemudian melayang, meliuk ke arah Arhan yang dalam kondisi lemah. Selanjutnya sosok itu memasuki tubuh Arhan di mana pemuda tersebut langsung beringas, memutuskan tali ikatannya. Selanjutnya ia berdiri tegak menghadap ke arah orang-orang dusun angker yang kini tengah terkejut melihat kejadian tersebut.

Dua di antara mereka lantas maju menyerang ke arah Arhan yang tengah dirasuki sosok nenek gondrong tersebut. Mereka menyerang menggunakan senjata andalan seperti parang ataupun tombak ke semua orang tersebut menyerang secara bersamaan. Namun, Arhan dapat mengimbangi serangan orang-orang tersebut.

Bacaan Lainnya

Sambil mengaum, ia berbalik menyerang dengan pukulan dan tendangannya yang sangat cepat. Alhasil seluruh serangannya berhasil menghantam para penyerangnya hingga terdorong keras ke belakang. Mereka pun berjatuhan dalam kondisi telentang dengan darah meleleh dari mulutnya masing-masing.

Arhan yang sedang kerasukkan itu tampak menyeringai sembari mengeluarkan suara tawanya yang menggema ke langit.

Orang-orang tersebut tidak mampu bangkit kembali untuk menyerang Arhan lagi. Mereka terkapar tidak berdaya.

Sementara itu, sisa dari para warga dusun angker termasuk kakek pembawa tongkat berkepala kobra tampak mundur perlahan sambil melihat dengan mata membelalak ke arah Arhan.

Sedangkan Pak Tohar bersama yang lain hanya bisa melihat dengan penuh kekagetan ke arah Arhan yang kini terlihat begitu beringas. Pemuda itu kini terlihat sedang mengintimidasi salah seorang warga yang posisinya berada lebih dekat darinya.

"Eheheheheheh… Tunjukkan di mana pemimpin para pengeruk tanah itu! Aku ingin membalas dendam kepadanya. Dia telah membunuh cucuku yang tersisa! Aku harus menemukannya! Dengan tubuh ini, aku akan menghabisinya!" Arhan berkata dengan suara serak semu berdengung pertanda ia sedang dikendalikan sesuatu yang sangat kuat.

[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/@acep_saep88

Mendadak ia melesat kemudian mencekik orang yang berada di hadapannya itu. Dalam sekejap sosoknya menghilang bersama orang yang ia cekik tersebut.

Pak Tohar dan yang lain jelas sangat panik saat menyaksikan Arhan menghilang dalam sekejap di hadapan mereka.

"Arhan!" teriak Pak Tohar sembari meronta berusaha melepaskan ikatannya.

Dani dan juga Arkim melakukan hal yang sama. Namun, orang-orang dusun angker yang tersisa rupanya tidak serta merta membatalkan rencana mereka untuk menghabisi atau mengorbankan Pak Tohar dan yang lain.

Terlebih dukun mereka masih ada, membuat mereka tetap melanjutkan rencananya.

Kini setidaknya sepuluh orang dari mereka menyerbu ke arah Pak Tohar dan yang lain seraya mengacungkan parang. Mereka menebaskan parangnya ke arah para korbannya yang dalam keadaan meronta-ronta ingin melepaskan diri.

Mendadak seseorang muncul sembari melepaskan beberapa anak panah sekaligus ke arah orang-orang tersebut hingga beberapa di antara mereka berjatuhan.

"Maaf kalau aku terlambat," ucap orang yang mengenakan jaket bertudung berwarna hitam serta bertatahkan butiran berwarna putih.

Ia bergegas ke arah Pak Tohar dan yang lain. Ia juga menghalau beberapa orang penduduk dusun angker yang masih merangsek ke arah Pak Tohar.

Dusun Angker: Kerasukan Iblis Jahat (Part 9) (1)
Ilustrasi hutan angker, dok: Pixabay

"Mengeroyok orang yang sedang terikat? Sangat pengecut!" ucap lelaki bertudung bersenjatakan panah itu seraya menendang salah seorang penyerang hingga jatuh terjerembab.

Setelah ia berhasil memukul jatuh orang-orang tersebut, ia menghampiri Pak Tohar kemudian melepaskan ikatannya.

"Pak Tohar sekarang bisa membantu yang lain melepaskan ikatan. Saya akan mengawasi para manusia haus darah ini," ucap orang tersebut seraya membidikkan panahnya pada sang dukun yang sedang kebingungan.

Di balik mimik wajah bingungnya, rupanya sang dukun sedang merencanakan hal yang tak terduga. Itu terlihat setelah ia tiba-tiba membanting wadah mangkuk dari gerabah ke atas tanah hingga menimbulkan suara berderak keras.

Ketika semua orang terkejut kemudian melihat ke arah wadah yang telah hancur itu, dukun tersebut telah menghilang di balik kegelapan, meninggalkan orang-orangnya yang masih dalam kondisi terluka di atas bukit pendek itu.

Sementara pria bertudung yang adalah Pak Ihsan hanya bisa menghela nafas seraya menyimpan panahnya kembali.

"Kakek itu cerdik juga. Sangat tidak masuk akal suara bantingannya dapat membuat perhatian kita teralihkan. Ngomong-ngomong, terimakasih, Pak Ihsan. Anda sudah menolong kami. Jika anda tidak datang, mungkin kami sudah menjadi mayat yang terpampang di atas tiang panjang itu," ujar

Pak Tohar seraya menatap ke arah Pak Ihsan yang sedang termangu.

"Arhan dibawa demit itu. Ini masalah karena makhluk itu tidak bisa dikatakan sebagai makhluk baik, meski sudah menjatuhkan beberapa orang penduduk dusun ini," tukas Pak Ihsan seraya melangkah menuruni bukit itu.

"Lalu apa yang harus kami lakukan, pak?" tanya Pak Tohar seraya mengikuti Pak Ihsan.

"Apa kita tidak sebaiknya pulang saja, Pak Tohar? Lagipula kita tidak tahu Arhan dibawa ke mana. Jadi kita tidak bisa mencarinya," kata Arkim yang juga turut mengikuti Pak Ihsan.

Dusun Angker: Kerasukan Iblis Jahat (Part 9) (2)
Ilustrasi hantu nenek, dok: Pixabay

"Ngomong-ngomong di mana mas Cayut?" ujar Dani membuat semua orang menoleh ke arahnya.

"Ya ampun. Kenapa kita bisa lupa?" kata Pak Tohar seraya berbalik hendak ke atas bukit namun dicegah Pak Ihsan.

"Dia juga harus dicari. Dukun itu yang membawanya," ucap Pak Ihsan membuat Pak Tohar menghentikan langkahnya.

"Jadi selain mencari Arhan, kita juga harus mencari Cayut? Aaahh, padahal tujuan kita kemari untuk mencari Sulman dan yang lainnya," erang Pak Tohar dengan frustrasi.

"Tenanglah, Pak Tohar. Saya akan membantu anda mencari Sulman dan yang lain.

Untuk Arhan dan yang satunya, untuk sementara kalian yang harus mencarinya. Nanti saya akan menyusul jika pencarian saya berhasil atau sebaliknya," tukas Pak Ihsan.

Pak Tohar dan Dani saling pandang kemudian melihat ke arah Arkim yang sedang menatap ke arah salah satu mayat yang dipajang di atas tiang.

Mendadak Arkim jatuh berlutut kemudian menangis tersedu-sedu.

"Usda! Aku tidak menyangka kalau dirimu berakhir di sini, di atas tiang ini. Padahal waktu lebaran kemarin, kita baru saja bertemu, bersilaturahmi di rumah Abah Sarif. Aku benar-benar tidak menyangka!"

Pak Tohar dan yang lain segera menghampiri Arkim sembari melihat ke arah mayat yang terpampang masih dalam kondisi lengkap. Bahkan wajah mayat tersebut terlihat jelas saat terkena cahaya lampu senter.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *