Diobral Asing Habis-habisan, Saham Bank Kakap Ambles

  • Whatsapp

Jakarta, Sentra Berita Indonesia – Saham bank-bank besar melorot ke zona merah, di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi pada penutupan perdagangan Kamis (18/11/2021). Pelemahan saham bank jumbo terjadi seiring adanya aksi jual (net sell) oleh investor asing.

Bacaan Lainnya

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG melemah 0,59% ke 6.636,47, dengan nilai transaksi Rp 11,99 triliun dan volume perdagangan 27,04 miliar saham hari ini.

Sebanyak 237 saham naik, 265 saham turun, dan 160 sisanya mendatar.

Di tengah pelemahan IHSG, investor asing melakukan jual bersih Rp 446,75 miliar di pasar reguler, tetapi membukukan beli bersih Rp 27,34 miliar di pasar negosiasi dan pasar tunai.

Berikut pelemahan saham bank kelas kakap hari ini (18/11).

  1. Bank Central Asia (BBCA), saham -2,31%, ke Rp 7.400/saham, net sell Rp 251,15 M

  2. Bank Danamon Indonesia (BDMN), -2,00%, ke Rp 2.450/saham, net sell Rp 4,81 M

  3. Bank Negara Indonesia (BBNI), -1,07%, ke Rp 6.925/saham, net sell Rp 21,30 M

  4. Bank Mandiri (BMRI), -0,69%, ke Rp 7.175/saham, net sell Rp 2,22 M

  5. Bank CIMB Niaga (BNGA), -0,48%, ke Rp 1.030/saham, net sell Rp 2,64 M

  6. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), -0,48%, ke Rp 4.180/saham, net sell Rp 26,96 M

Saham bank milik Grup Djarum BBCA menjadi yang paling melorot, yakni sebesar 2,31%. Pelemahan saham BBCA terjadi seiring asing beramai-ramai melego saham ini dengan nilai jual bersih Rp 251,15 miliar, tertinggi di bursa saat ini.

Dengan ini, saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa ini sudah melorot 3,8% dalam sepekan, sedangkan dalam sebulan saham BBCA stagnan.

Terbaru, BBCA akan membagikan dividen interim tunai sebesar Rp 25 per saham untuk tahun buku 2021. Perhitungan tahun buku tersebut terhitung sejak 1 Januari 2021 sampai dengan 30 September 2021.

Keputusan pembagian dividen interim tersebut selaras dengan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan pada 29 Maret 2021 dan keputusan direksi dan komisaris pada 4 November 2021

Adapun jadwal akhir dari periode perdagangan saham dengan hak dividen (cum dividen) di pasar tunai dan tanggal pencatatan daftar pemegang saham yang berhak atas dividen (record date) jatuh pada hari ini, Kamis (18/11).

Sementara, pembayaran dividen interim tunai akan dilaksanakan pada 7 Desember 2021.

Selain saham BBCA, saham BDMN juga melorot 2,00%, di tengah aksi net sell asing mencapai Rp 4,81%.

Kemudian, trio saham bank BUMN, BBNI, BMRI, dan BBRI juga terjungkal terkena imbas aksi jual asing hari ini, dengan penurunan masing-masing 1,07%, 0,69%, dan 0,48%.

Ketiga saham juga termasuk saham yang paling banyak dilego asing. Asing keluar di saham BBNI dengan nilai jual bersih Rp 21,3 miliar. Setali tiga uang, asing juga mencatatkan nilai jual bersih di saham BMRI dan BBNI masing-masing sebesar Rp 2,2 miliar dan Rp 27,0 miliar.

Mengenai sentimen untuk pasar hari ini, Wall Street yang melemah tentunya memberikan sentimen negatif ke bursa saham Asia pada perdagangan hari ini, termasuk ke IHSG. Apalagi, kenaikan inflasi juga disoroti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai salah satu ancaman yang dihadapi Indonesia.

Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, China, Eropa, Meksiko dan Korea Selatan mengalami kenaikan harga di tingkat produsen sehingga menyebabkan inflasi tinggi. Indonesia juga alami kenaikan, meskipun tidak signifikan.

Selain itu, tingginya inflasi akan memicu kenaikan suku bunga, salah satunya bank sentral AS (The Fed) yang tentunya akan memberikan dampak signifikan ke pasar finansial global termasuk Indonesia. Saat ini pelaku pasar melihat peluang kenaikan yang agresif di tahun depan.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7 day reverse repo rate di 3,5% sesuai dengan perkiraan consensus.

BI 7 Day Reverse Repo Rate tidak berubah sejak Maret 2021. Artinya, suku bunga acuan sudah ditahan selama sembilan bulan beruntun. Suku bunga acuan di 3,5% adalah yang terendah sepanjang sejarah Indonesia merdeka.

Dengan inflasi yang rendah dan nilai tukar rupiah yang cenderung stabil meski The Fed sudah melakukan tapering, maka tekanan bagi BI untuk menaikkan suku bunga bisa dikatakan nihil.

Bagaimanapun juga suku bunga rendah masih diperlukan untuk membantu perekonomian Indonesia bangkit lagi setelah melambat di kuartal III-2021 lalu.

James Sweeney, kepala ekonom di Credit Suisse mengatakan BI akan menaikkan suku bunga di tahun depan guna mencegah terjadinya capital outflow dan menjaga stabilitas rupiah.

TIM RISET Sentra Berita INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *