Data Ritel AS Beri Kejutan, Wall Street Dibuka di Zona Hijau

  • Whatsapp

Jakarta, Sentra Berita Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Jumat (16/7/2021), setelah data penjualan ritel Juni tercatat lebih baik dari ekspektasi.

Penjualan ritel per Juni di AS dilaporkan tumbuh 0,6% secara bulanan, atau terbalik 180 derajat dari proyeksi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan penurunan 0,4%. Jika penjualan otomotif dikeluarkan, maka pertumbuhan penjualan ritel mencapai 1,3% atau jauh lebih baik dari ekspektasi pasar sebesar 0,4%.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 84,5 poin (+0,24%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 30 menit menjadi 46,5 poin (+0,13%) ke 35.033,49. S&P 500 bertambah 8,3 poin (+0,19%) ke 4.368,36. Nasdaq melesat 48,8 poin (+0,34%) ke 14.591,96.

“Kuatnya PDB [Produk Domestik Bruto] dan pertumbuhan laba emiten, dukungan fiskal dan moneter serta pemulihan pasar tenaga kerja semuanya mendukung pandangan optimistis atas bursa saham hingga penghujung tahun,” tutur Greg Marcus, Direktur Pelaksana UBS Private Wealth Management, sebagaimana dikutip Sentra Berita International.

Saham siklikal yang diuntungkan dari pembukaan kembali ekonomi memimpin penguatan, di antaranya Bank of America, Boeing, dan maskapai penerbangan serta energi. Saham emiten konser Live Nation juga naik setelah Goldman Sachs menilai saham perseroan bisa melesat nyaris 40% setelah konser kembali diizinkan.

Saham Intel menguat setelah Wall Street Journal memberitakan rencana perseroan mengakuisisi GlobalFoundries Inc senilai US$ 30 miliar. Itu akan menjadi transaksi terbesar yang pernah dilancarkan emiten produsen chip komputer tersebut. Saham Moderna melesat 7% setelah produsen vaksin tersebut dinyatakan menjadi anggota terbaru indeks S&P 500.

Sejauh ini, dari 18 emiten yang menjadi konstituen indeks S&P 500 dan mencetak kinerja yang melampaui ekspektasi, membukukan rata-rata kenaikan laba bersih per saham (earnings per share/EPS) di angka 18% dari ekspektasi.

Namun, saham mereka justru melemah rata-rata 0,58% di hari ketika kinerja keuangannya dirilis. Akibatnya, indeks S&P 500 sepanjang pekan berjalan mencatatkan koreksi sebesar 0,2%. Di sisi lain, energi penguatan berasal dari saham sektor teknologi dan komunikasi. Saham Apple melesat 2,3% sepanjang pekan, sementara Netflix, Alphabet dan Microsoft menguat 1,1%.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen membantu memperkuat sentimen pasar setelah menyatakan bahwa inflasi tinggi kemungkinan akan melandai dalam beberapa bulan tetapi sikap kehati-hatian masih harus dipertahankan dalam menyikapinya.

“Saya tak mengatakan bahwa ini adalah fenomena berumur 1 bulan. Namun menurut saya dalam jangka menengah kita akan melihat pelemahan inflasi kembali ke level normal,” tuturnya kepada Sentra Berita International. Saat ini, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terpantau stabil, di level 1,3%.

TIM RISET Sentra Berita INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *