China Larang Bitcoin, Penambang ‘Kabur’ ke AS hingga RI

  • Whatsapp

Jakarta, Sentra Berita —

Bacaan Lainnya

Sejumlah penambang uang kripto di China mulai pindah dan menjual mesin tambang mereka ke luar negeri, seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Rusia, Kazakhstan, hingga Indonesia. Ini merupakan dampak dari larangan dan tindakan keras China terhadap uang kripto, seperti bitcoin dan lainnya.

“Banyak penambang keluar dari bisnis (uang kripto) untuk mematuhi kebijakan pemerintah (China). Mesin tambang (uang kripto) dijual seperti besi tua,” ungkap Mike Huang, seorang operator tambang uang kripto di Sichuan, China, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (25/6).

Huang Dezhi, operator tambang uang kripto lain di Sichuan mengaku juga sudah melakukan penjajakan ke luar negeri seperti Kazakhstan. Sichuan sendiri merupakan salah satu kawasan yang terkenal sebagai pusat penambangan bitcoin nomor dua di China setelah Xinjiang.

“Jika pemerintah tidak membalikkan kebijakan tersebut, kami tidak akan punya pilihan lain. Anda tidak dapat menentang keputusan pemerintah pusat,” ujar Dezhi.

Tak hanya Huang dan Dezhi, Liu Hongfei, operator tambang uang kripto lainnya, juga mengaku mau tidak mau harus meninggalkan bisnis ini karena larangan China.

“Jika pemerintah tidak mengizinkannya, saya harus berhenti. Anda tidak mungkin melawan Partai Komunis di China, bukan?” kata Hongfei.

Salah satu perusahaan pembuat mesin uang kripto terbesar di China, Bitmain, menyatakan bahwa pihaknya sudah menangguhkan penjualan produk di sana. Selanjutnya, mereka mulai mencari ‘suaka’ baru di luar negeri bersama klien baru.

Kondisi ini turut membuat harga mesin tambang uang kripto turun drastis dari semula sekitar 4.000 yuan menjadi 700 yuan hingga 800 yuan. Tak hanya Bitmain, perusahaan lain, BIT Mining menyatakan sudah menjual sekitar 320 mesin tambang uang kriptonya ke Kazakhstan.

Rencananya, perusahaan akan menjual lagi sekitar 2.600 mesin ke Asia Tengah mulai 1 Juli 2021. Bahkan, perusahaan juga telah mengalirkan investasi ke pusat tambang uang kripto di Texas, AS.

“Kami mempercepat pengembangan luar negeri kami untuk sumber daya pertambangan alternatif berkualitas tinggi,” kata CEO BIT Mining Xianfeng Yan.

Riset dari OKEx Insights memperkirakan sekitar 90 persen aktivitas tambang uang kripto langsung berhenti di China akibat larangan ini. Namun di sisi lain, kondisi ini menguntungkan aktivitas tambang uang kripto di luar China.

“Setiap operasi penambangan di luar China langsung diuntungkan karena imbalan penambangan mereka otomatis naik,” tutur Pendiri BlocksBridge Consulting Nishant Sharma.

Pindahnya para penambang uang kripto di China merupakan dampak lanjutan dari larangan pemerintah negeri tirai bambu terhadap bitcoin dan lainnya di negara mereka. Sebelumnya, larangan ini memberi dampak pada penurunan harga berbagai uang kripto, misalnya harga bitcoin yang jatuh dari kisaran US$60 ribu menjadi US$30 ribu per koin.

China mengambil kebijakan ini untuk menghindari risiko spekulatif uang kripto terhadap pasar keuangan mereka. Di saat yang sama, bank sentral China tengah menguji mata uang digitalnya sendiri.

[Gambas:Video CNN]

(uli/age)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *