Cerpen: Gara-gara Kopi dan Catur

  • Whatsapp

Burung walet yang terlihat di langit biru terbang menukik tajam ke bawah, kemudian bermanuver dan kembali lagi terbang ke atas. Berlenggak-lenggok di awang-awang menembus cakrawala melintasi lintasan angin. Sayapnya kadang dikepakan dengan cepat, kadang pula ditekuk. Atraksilah dia bak pesawat tempur yang siap menembus wilayah kekuasaan lawan.

Pilotnya begitu mahir mengendalikan sayap dan mesin alamiah burung walet. Tak perlu radar secanggih milik Israel guna menerawang halangan apa di depan. Cukup indera yang diciptakan begitu rumit terpasang di bagian kokpit.

Lalat yang terbang berisik membangunkan Yadi yang tengah tidur di atas kursi dipan depan rumah, tepatnya agak ke samping sedikit.

Dihalaulah lalat itu supaya terbang menjauh dari depan wajahnya. Matanya kembali terpejam sesaat lalat itu hilang. Namun hal yang sama dilakukan lagi tatkala sang lalat kembali datang.

Bagaimana tidak mengganggu, pikir Yadi, dalam satu detik saja lalat bisa mengepakan sayap sebanyak 200 kali. Bising. Belum lagi perilaku hidupnya yang kotor membuat tubuh hewan ini sangat dibenci. Apalagi ketika hinggap, atau bahkan tercebur ke dalam segelas kopi.

Saking kotornya lalat terkadang disebut sebagai hewan penyebar penyakit. Perilaku hidup kotornya sangat menyebalkan. Mengapa mereka menyukai wahana yang kotor? Mengapa mereka tidak mengikuti lebah yang menyukai bunga-bungaan? Memang sulit meyakinkan lalat bahwa bunga itu lebih indah dari pada sampah.

Pemilik toko tertegun sebentar kala melihat karyawan kesayangannya sedang tidur siang. Nyenyak sekali kelihatannya. Tiba-tiba rasa cemburu terpercik di dalam hatinya. Enak sekali kau tidur siang. Saya sebagai bos sangat menghindari waktu!

“Bangun lu orang!,” bentak Bos.

“Siapppppp…. Bos!,” Yadi langsung bangun dan hormat. Matanya masih sipit.

“Habis apa lu orang tidur mulu,”

“Siap, tadi saya abis makan ubi dan minum kopi bikinan Bi Ti’oh, sangat enak. Siap tak lama kemudian saya tertidur,” jelas Yadi.

Anaknya yang sedang bermain sepeda tertawa kecil mendengar keterangan Yadi.

“Tolong lu orang antar ini pesanan ke rumah ini. Cuci muka lu,”

“Siapppp grakk. Maju jalan,”

Advertisement. Scroll to continue reading.

Bos Yadi hanya bisa geleng-geleng kepala sambil berlalu. Anaknya mengikuti Yadi pakai sepeda dari belakang.

Di sepanjang jalan selama Yadi melintas terpasang banyak banner dan ucapan nasionalis. Kebetulan pemilihan umum kepala daerah dan anggota DPRD di tempat Yadi sebentar lagi dilaksanakan. Yadi tertegun melihatnya.

“Ini kampanye nih,” gumam Yadi saat berjalan.

Saat berjalan dia melihat berbagai ungkapan kampanye.  Diantaranya : Coblos nomor satu, dua, tiga dan selanjutnya. Berjuang bersama Rakyat, Menciptakan Daerah Mandiri, Bersatu melawan kemiskinan, Berantas Korupsi, Hidupkan Ekonomi dan banyak lagi yang lainnya.

Setengah perjalanan Yadi bertemu Husen.

“Kemana Mang Yadi.” Tanya Husen.

“Mau nganterin cat, Sen.” Jawab Yadi

“Mau ikut ngopi enggak nih?.”

“Atuh ikut. Mau dimana lah. Sambil main catur atuh.”

“Siapp. Di warung Bi Nining aja.”

“Rapatkan.”

Mereka pun akhirnya berjalan menuju warung Bi Nining. Diperjalanan diselingi dengan candaan. Sesekali Yadi tertawa terbahak-bahak, kemudian Husen. Seringkali orang-orang yang terlewati rumahnya menyapa keduanya. Atau bahkan melemparkan lelucon untuk keduanya.

“Ning nang ning ning nang euuu.” Kata Yadi dari kejauhan.

Husen tertawa melihat tingkahnya. Bi Nining juga tersenyum. Terbiasa melihat ulah Yadi.

Mereka pun duduk. Husen di tempat biasa di dekat terminal listrik. Sementara Yadi di hadapannya. Cat disimpan digantung di paku.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sebenarnya Husen niat sendirian ke warung Bi Nining. Ingin ngopi dan menikmati kedamaian. Tapi bertemu Yadi. Tutur sapa diajak akhirnya mau. Apa salahnya.

“Kopi dua, dari Mang Yadi.” Kata Husen.

“Siapp.” Kata Yadi. “Dibayar bulan depan.” Keduanya tertawa.

Husen mencari papan catur. Bidak-bidak mulai dipasang.

“Wah kudanya ilang satu.” Kata Husen.

“Ya pasti. Ini jadwalnya narik.” Jawab Yadi.

“Oh iya mulai banyak ibu-ibu pulang dari pasar. Jangan-jangan lagi jemput Bi Emah.”

“Saya siap, jangan pake delman motor saja.”

Husen tertawa mendengar itu. Pikirannya pasti sudah kemana-mana.

“Coba atuh cari di bawah. Kayanya bekas semalem.”

“Nyari ini bukan?.” Tanya Bi Nining menghampiri.

“Nah iya ini. Darimana Bibi?.” Tanya Husen.

“Tadi lagi beres-beres. Dari bawah.”

“Kirain dipakai mainan, Ning.” Kata Yadi.

“Gelo.” Timpal Bi Nining.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Bidak-bidak mulai dipasang. Semua prajurit siap berperang. Yadi meskipun slengean tapi cukup menyulitkan. Husen pernah kalah sekali dua. Tiap main memakan waktu banyak.

Yadi pegang putih. Menjalankan pion di depan raja dua langkah. Ditahan kembali oleh pion hitam. Italian Opening tersaji.

“Okey..okey.” kata Husen sambil menghisap rokok dan membenarkan posisi duduk.

Yadi tetap fokus. Serangan mulai dibentuk. Cukup merepotkan Husen.

Permainan berjalan alot karena diselingi obrolan.

Bi Nining hanya menyaksikan dari dalam warung. Duduk tertegun melihat keduanya bermain catur. Bi Nining tidak memakai HP android. Jadi ketika waktu senggang hanya melamun. Punya HP untuk terima telepon. Sesekali menelpon anaknya jika ada keperluan.

Terkadang tontonan catur tidak jelas kelihatan. Barang dagangan Bi Nining masih numpuk belum banyak yang terjual. Belakangan ini lumayan lesu omset dagangnya.

“Sen, toko di depan teh punya siapa ya?.” Tanya Bi Nining.

“Apa bi?.” Timpal Husen.

“Toko yang depan itu punya siapa.”

“Oh itu katanya punya pengusaha dari Cihaur sih infonya”

“Oh. Enak ya pengusaha mah bangun usaha dimana aja bisa.”

“Atuh iya Ning. Da duitnya banyak. Warung Nining ge bisa dijual ke sana.” Kata Mang Yadi.

“Dih mau makan dari mana nantinya atuh.”

“Dari saya.”

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Kumat.”

“Kenapa gitu Bi?” Tanya Husen.

“Gapapa pengen tau aja. Enak ya punya modal gede mah. Bikin usaha teh langsung aja gede.”

“Katanya lagi terus digoreng itu.”

“Kurang mateng tah?.” Tanya Mang Yadi.

“Telinga Mang Yadi kurang goreng.” Timpal Bi Nining.

“Itu izinnya dipermasalahin katanya. Pengusaha belum dapet izin resmi. Makanya terus di demo init uh.” Jelas Husen. “Hey mindahin yang mana Mamang?.”

“Itu Gajah.”

Kembali rokok dibakar. Kopi hitam diminum.

“Juga sebetulnya mah gaboleh didirikan di sini usaha gitu teh. Coba jarak ke pasar juga kan sangat dekat. Kata orang aktivis mah jaraknya cuma 850 meter. Padahal aturannya harus 1 kilo meter lebih.”

“Ih sebel teh Bibi mah sekarang. Dagangan juga jarang laku. Roko juga. Anak-anak muda teh kebanyakan nongkrong di sana sekarang mah. Apalagi Ibu-ibu yang beli telur mah sambil jajanin anak-anaknya di sana. Banyak langgan Bibi masuk ke sana. Kan kelihatan dari sini mah.”

“Dih atuh rejeki mah udah ada yang ngatur Ning Nong.” Kata Mang Yadi.

“Enggak Mang, emang itu harusnya mah jangan berdiri di sana toko teh. Karena ini mah udah cacat prosedur. Pemerintah tuh katanya mau pro rakyat, tapi hal gini juga kaya kurang diseriusin. Kan keberadaan toko-toko modern gitu teh sebenernya mah menggerus warung-warung kaya Bi Nining ini.”

“Ya iya. Ini bibi sekarang mah nurun omsetnya. Gatau kedepannya.”

“Iya pastinya Bi. Si Abah rokok samping toko mah sampe tutup ya?”

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Iya bener kasihan Si Abah rokok sampe tutup. Atuda jarang ada yang beli. Pada masuk ke sana semua.”

“Emang sih modern teh perlu. Cuman sekarang mah kan masih banyak masyarakat yang ngandelin hidup dari dagang gini. Coba itung Mang Yadi ada berapa warung.”

“Ji wa lu pat, lima belas kayanya…”

“Lebih Mang. Ada 25 kalo radius 1 kilo di sini mah. Gatau lebih ini teh sama di gang-gang nya mah.”

“Pemerintah mah mendukung aja sama penanam modal. Padahal itu tidak terlalu besar keuntungan pajakna atuh. Yang ada malah nambahin beban.” Kata Husen. “Eh kopi teh masih anget.”

“Kan banyak Sen sekarang mah toko-toko modern teh. Diperlukan karena segala kebutuhan ada.” Kata Mang Yadi.

“Iya, tapi harusnya mah pemerintah membatasi. Jangan sampai terlalu banyak. Akhirnya ini teh bisa menggerus warung-warung kecil. Abah Rokok tuh korban. Belum di tempat lain ada. Warung yang depan Bank Raup Untung ge kan tutup sekarang. Padahal udah dari dulu itu warung. Pan itu hadap-hadapan sama toko modern.”

“Segala kebutuhan kan sekarang mah disediain sama toko modern tuh. Kerasa sama Mang Yadi mah bikin mudah belanja da. Kalau di suruh sama si Oo teh tinggal dicatet, ada semua. Ga harus nawar. Adem juga.”

“Ya bagi yang punya banyak duit, Mang. Coba dulu kalau belanja ke siapa?.”

“Dulu mah Mamang sampai muter-muter nyari belanjaan ke tiap warung. Cape da.”

“Apa cik manfaatnya?.”

“Olahraga.”

“Wkwk. Mang Yadi iya sehat olahraga karena kaditu kadieu. Tapi kan tuh warung-warung kecil juga jadi kebagian belanjaan duit si Oo. Abis kan barang dagangan teh karena banyak yang dibeli.”

“Oh enya haduh poho, poho.” Kata Mang Yadi sambil tepok jidat. Bi Nining julurin lidah.

“Ada juga persatuan pegawai negeri sipil teh sekarang mah malah bergabung bikin toko modern. Makin banyak meureun nya.” Nyeruput kopi. “Ster!”

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Ah berisik aja Ning. Sampe ga kekontrol.”

“Dih bisa-bisanya nyalahin Nining. Jiga nu pinter wae. Wew.”

Husen tertawa.

Di tempat lain Bos Yadi lagi menghadapi omelan konsumen. Kebetulan konsumen yang kali dikecewain adalah mantan preman.

“Saya pesan cat dari tadi udah nunggu lama ga dateng-dateng. Keburu mau dipake buat campuran. Keburu kering, Bos!.” Tegas Mantan Preman dalam telepon. “Sekiranya gabisa langsung dianterin bilang. Saya double kalau gini. Saya batalin. Gajadi dibeli.”

Bos Yadi Cuma terus-terusan minta maaf. Di dalem hatinya bergejolak kemarahan yang memuncak.

“Yadiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.” Teriaknya geram.

Penulis : Genta

Foto ilustrasi bersumber dari https://www.gambar.pro/2010/05/61-gambar-karikatur-catur-terlihat-keren.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *