Bikin Salut, 4 Sekolah Ini Tetap Buka Meski Muridnya Hanya Tinggal Satu Anak Saja – SentraBerita.com

  • Whatsapp

Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi kita dari sejak lahir hingga liang lahat. Sebab, ilmu bisa jadi bekal dalam menjalani hidup. Dengan ilmu, seseorang bisa mencapai impian dan cita-citanya, entah itu dapat pekerjaan bagus atau jadi kaya raya.

Beberapa sekolah di bawah ini rupanya bisa jadi contoh nyata bagaimana usaha keras dalam menuntut ilmu. Bagaimana tidak, pasalnya meskipun hanya punya satu guru dan murid, namun mereka terus melakukan kegiatan belajar dan mengajarnya. Semua demi masa depan sang murid dan keinginan keras belajarnya. Lalu sekolah mana saja sih itu? Biar gak panasaran, simak ulasan di bawah ini.

Di Malaysia ada sekolah cuma satu murid

Malaysia memang terkenal dengan pendidikannya yang lumayan maju dan diutamakan. Namun siapa sangka di negeri itu pula ada sebuah sekolah yang muridnya hanya seorang saja. Dilansir dari laman Merdeka, Sekolah Rendah Jenis Kebangsaan Cina (SJKC) bernama Aik Hua pada tahun 2016 hanya memiliki seorang murid saja yang datang ke sekolah.

Hanya satu murid [sumber gambar]

Murid tersebut adalah Oon Shen Juin berumur tujuh tahun yang tiap hari rela jalan kaki ke sekolah. Usut punya usut, sekolah ini memang tidak memiliki murid yang banyak, di tahun 2015 saja jumlah pelajar baru yang ada di sana hanya dua orang. Namun demikian, para guru akan tetap berjuang keras demi masa depan murid di sana.

Dulu banyak diminati, sekarang tinggal seorang murid saja

Ternyata nasib yang sama dialami oleh salah satu sekolah Kecamatan Xianyou, Provinsi Fujian, China. Di sekolah yang lumayan layak namun ternyata hanya ada satu murid saja yang diajar oleh gurunya.

Tetap sekolah meski hanya seorang diri [sumber gambar]

Dilansir dari laman Merdeka, sekolah ini sebenarnya masuk dalam standar yang berlaku di negaranya, dengan memiliki 3 lantai dan 24 kelas seharusnya jadi lembaga pendidikan yang maju. Namun sayangnya nasib berkata lain, awalnya sekolah ini memiliki 80 murid kemudian menurun drastis hingga hanya satu orang siswa yang bersekolah di sana. Siswa tersebut adalah Hu Yang yang saat itu mengaku akan tetap giat dalam belajar meskipun sendirian.

Karena masalah ekonomi, sekolah hanya ada satu guru dan murid

Di sebuah desa Provinsi Hubei di China, masalah ekonomi rupanya membuat banyak penduduk di sana harus pergi ke kota. Lantaran membawa anak mereka juga, akhirnya sekolah-sekolah desa pun jadi sepi oleh siswa. Alhasil di salah satu sekolah hanya ada satu murid dan guru saja yang aktif melakukan kegiatan belajar-mengajar setiap harinya.

Dari 300 menjadi seorang murid saja [sumber gambar]

Sebenarnya masih ada beberapa anak yang tinggal di sana namun hanya seorang bernama Liu Jiankang yang mau bersekolah. Karena melihat kegigihan dan semangat belajar dari Liu, gurunya yang bernama Liu Zhaoming pun tersentuh dan rela mengajar walaupun muridnya hanya seorang. Seperti kasus lain, awalnya murid di sana berjumlah 300-an orang, namun karena urbanisasi membuat jumlah terus merosot tiap tahunnya.

Akibat Urbanisasi, murid hanya seorang saja

Kasus lain dialami oleh sebuah sekolah di Desa Gaoyang, Chongqing, China. Lagi-lagi, karena masalah urbanisasi memaksa banyak penduduknya untuk pergi ke kota. Apalagi adanya refomasi pendidikan membuat banyak orang di sana yang menganggap kalau sekolah kota lebih layak ketimbang pendidikan yang ada di desa.

Dampak urbanisasi murid dan guru tinggal satu [sumber gambar]

Hasilnya sebuah sekolah harus bertahan dengan satu murid saja. Dia adalah Wu Tao murid yang tetap setia belajar walaupun tidak ada orang lain yang belajar di sekolah. Sang guru, Xiang Zhengguo tetap mengajar muridnya itu semua pelajaran wajib meskipun tak ada lagi guru lain yang membantunya. Semua dilakukan karena melihat semangat belajar dari si murid.

BACA JUGA: 5 Bocah SD yang Punya Semangat Luar Biasa untuk Sekolah Meski Hidup dalam Keterbatasan

Hal ini tentunya jadi tamparan keras bagi kita dalam menuntut ilmu. Bagaimana tidak, mereka terus berjuang untuk belajar walaupun banyak masalah yang dihadapi. Sedangkan kita, kadang tak ada kuota saja sudah merengek dan minta berhenti. Seharusnya kita contoh perjungan para guru dan murid itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *