Berkas Dinyatakan Lengkap, Kasus Pembunuhan Laskar FPI Segera Disidang

  • Whatsapp

SentraBerita.com, Tim Jaksa Peneliti pada Direktorat Tindak Pidana Orang dan Harta Benda pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum menyatakan bahwa Berkas Perkara Dugaan Tindak Pembunuhan atas nama Tersangka FR dan Tersangka MYO sudah lengkap.

“Setelah dilakukan gelar perkara atau ekspos yang dilaksanakan oleh Tim Jaksa Peneliti hari ini dan berdasarkan penelitian tim, kelengkapan berkas perkara baik formal maupun materiil telah terpenuhi sehingga berkas perkara dapat dinyatakan lengkap,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak di Kantornya, Jumat (25/6/2021).

Bacaan Lainnya

Selanjutnya, kata Leo, Tim Jaksa Penuntut Umum meminta kepada Tim Penyidik pada Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI untuk dapat segera menyerahkan tanggung jawab Tersangka dan barang bukti atau Penyerahan Tahap II, guna menentukan apakah perkara tersebut sudah memenuhi persyaratan untuk dapat dilimpahkan ke pengadilan.

Diketahui, sebelum dinyatakan lengkap, Polri kembali menggelar rekonstruksi ulang kasus terkait dugaan unlawful killing terhadap 4 laskar FPI. Rekonstruksi kali ini dilakukan bersama jaksa penuntut umum (JPU).

“Proses rekonstruksi bersama JPU pada hari Senin lalu,” ujar Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Brigjen Andi Rian Djajadi melalui pesan singkat, Jumat (11/6/2021).

Andi menjelaskan rekonstruksi itu dilakukan berdasarkan permintaan JPU. Selain itu, kata Andi, lokasi yang dipilih sudah disepakati JPU, yakni di Cikeas, Jawa Barat.

Penyidik Bareskrim Polri menjerat dua tersangka dengan Pasal 338 KUHP juncto Pasal 56 KUHP tentang pembunuhan dan dengan sengaja turut serta dalam membantu tindak kejahatan.

Tersangka FR -pelaku penembakan- dan MYO -pengemudi mobil- tidak dilakukan penahanan karena keduanya dinilai kooperatif, tidak dikhawatirkan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti.

Sementara satu tersangka lainnya atas nama Ipda Elwira Priyadi Zendrato, berdasarkan Pasal 109 KUHAP, karena yang bersangkutan telah meninggal dunia karena kecelakaan maka penyidikan terhadapnya dihentikan.

Ketiga oknum penyidik Polda Metro Jaya itu diduga kuat membunuh empat dari enam anggota laskar FPI yang awalnya ditangkap dalam keadaan hidup. 

Sebelumnya, Direktur Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid meminta kasus unlawful killing/extra judicial killing atau ada keterlibatan perangkat negara, dua polisi dalam kasus laskar FPI harus digelar secara terbuka untuk umum.

Tujuannya agar kasus tersebut juga bisa diawasi oleh publik dan tidak terjadi kembali peristiwa serupa. Kemudian, persidangan juga harus dilakukan secara transparan dan akuntabel sesuai rekomendasi Komnas HAM guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *