Badan Intelijen Rusia Bantah Tudingan Rencana Invasi ke Ukraina

  • Whatsapp

Tentara Rusia di perbatasan Ukraina. Foto: Andrey Kronberg/AFP
Negara-negara Barat belakangan ini menuding Rusia merencanakan invasi ke Ukraina. Negeri Beruang Merah dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
Dikutip dari AFP, badan intelijen asing Rusia, SVR, mengatakan Amerika Serikat menyebarkan informasi yang tidak benar soal konsentrasi pasukan Rusia di wilayahnya sendiri.

“Amerika menggambarkan pemandangan yang menakutkan soal gerombolan tanker Rusia akan menghancurkan kota-kota Ukraina, dan mereka mengatakan punya ‘informasi tepercaya’ mengenai intensi Rusia yang seperti itu,” kata SVR dalam keterangan yang disampaikan pada kantor-kantor berita Rusia, Senin (22/11).

Bacaan Lainnya

“Amerika Serikat mengirimkan informasi yang sangat tidak benar kepada sekutu-sekutunya mengenai konsentrasi pasukan di wilayah negara kami sebagai invasi militer ke Ukraina,” lanjutnya.

Seperti diketahui, pada bulan ini Barat–termasuk AS–memperingatkan adanya aktivitas militer Rusia yang “tidak biasa” di dekat perbatasan dengan Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto: Anatoly Maltsev/Pool via REUTERS

“Birokrat AS menakut-nakuti komunitas internasional,” tegas SVR.

Kremlin (Pemerintahan Rusia), di hari yang sama, mengatakan Barat saat ini menggiring “kampanye informasi” dengan tujuan untuk “meningkatkan ketegangan.”

“Pergerakan tentara Rusia di dalam wilayah kita, tidak memberikan ancaman kepada siapa pun dan tidak perlu memicu kekhawatiran kepada siapa pun,” ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada wartawan.

Rusia Tuding Balik Ukraina

Dalam keterangannya, SVR mengungkap mereka memiliki informasi soal adanya pergerakan pasukan bersenjata Ukraina.

Selain itu, Ukraina disebut mengorganisir “konsentrasi pasukan” di area-area yang berbatasan dengan Rusia dan Belarusia.

Belarusia, kawan baik Rusia, saat ini tengah dihadapkan dengan krisis imigran, yang membuatnya cekcok dengan Uni Eropa.

Pemerintah Ukraina mengatakan, mereka akan mengerahkan ribuan pasukan penjaga perbatasan dan petugas penjaga keamanan ke perbatasan dengan Belarus akibat krisis imigran tersebut.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Foto: AFP

Lewat akun Twitternya, Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan tuduhan Rusia bahwa Ukraina merencanakan serangan militer ke separatis adalah informasi yang “tidak benar.”

Tensi Antara Barat, Rusia, dan Ukraina

Ketegangan di antara mereka terus meningkat sejak November ini. Pada 14 November, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan tentara di perbatasan Ukraina-Rusia sudah mencapai 100.000 orang.

Situasi kedua negara memburuk sejak 2014 lalu, ketika Rusia mencaplok Krimea, semenanjung yang berlokasi di sebelah selatan Ukraina. Hal ini diperburuk dengan Rusia diduga mendukung gerakan separatis yang berlokasi di timur Ukraina (dekat perbatasan Rusia).

Pada Senin (22/11), Presiden Rusia Vladimir Putin menelepon Perdana Menteri Italia Mario Draghi. Keduanya membahas soal situasi di Ukraina saat ini.

Kapal perusak Tipe 45 Angkatan Laut Kerajaan HMS Defender, diikuti oleh fregat Angkatan Laut Kerajaan Belanda HNLMS Evertsen, berlayar di Bosphorus, dalam perjalanannya ke Laut Hitam, di Istanbul, Turki 14 Juni 2021. Foto: REUTERS/Yoruk Isik

Menurut transkrip yang dirilis Kremlin, Putin mengatakan Ukraina sendirilah yang memperburuk situasi di wilayah timur separatis, Donbas.

Putin sebelumnya juga mengkritik Ukraina akibat menggunakan pesawat tanpa awak (drone) buatan Turki untuk melawan para pemberontak pro-Rusia.

Tak hanya itu, orang nomor satu Rusia ini juga menyuarakan kekhawatirannya soal latihan Angkatan Laut AS di Laut Hitam, laut yang berlokasi di barat daya Rusia dan selatan Ukraina.

Pekan lalu, Putin mengatakan Barat “meningkatkan” konflik yang ada dengan melaksanakan kegiatan latihan militer di laut itu. Menurutnya, AS bahkan menerbangkan pesawat pengebom dekat perbatasan Rusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *