Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan Jika Orang Tua Terlalu Menuntut?

  • Whatsapp

Rubrik ‘Ask VICE’ diperuntukkan bagi para pembaca yang membutuhkan saran VICE untuk menyelesaikan masalah hidup, dari mengatasi cinta yang bertepuk sebelah tangan hingga menghadapi teman kos yang rese.


Curhatan S.: Orang tua bekerja keras demi memenuhi segala kebutuhan saya dan adik perempuan. Mereka penyayang dan sangat peduli dengan anak, tapi juga sering menuntut dan dominan.

Ibu masih dihantui masa kecilnya — ibu sangat sensitif dan insecure — sedangkan ayah percaya orang tua selalu benar dan anak tidak boleh membantah.

Misalkan ibu kurang suka dengan seseorang, maka saya tidak boleh mengajaknya berteman. Atau misalnya saya asyik mendengarkan musik di kamar untuk menenangkan diri setelah melalui hari yang buruk, ibu pasti akan merasa tersinggung. Saya diminta menghabiskan setiap waktu yang saya miliki bersama keluarga. Saya harus menurut dan tidak boleh menolak.

Keadaan mulai berubah saat kuliah. Saya mendadak merasa bebas setelah seumur hidup mengikuti kemauan orang tua. Saya juga menyadari, jauh di lubuk hati, kalau saya tidak mengenali diri sendiri. Saya merasakan gelombang stres setiap pulang ke rumah di akhir pekan, dan itu baru hilang setelah balik ke kampus.

Sejak pandemi, saya tidak pernah menjenguk orang tua karena takut menularkan COVID-19. Saya menghabiskan tiga bulan sendirian dan menikmatinya. Saya akhirnya kepikiran untuk mengurangi waktu pulang ke rumah orang tua. Tapi masalahnya, orang tua ingin saya tetap mengunjungi mereka di akhir pekan dan berharap saya tinggal bersama mereka lagi setelah lulus kuliah. Saya sampai mempertimbangkan untuk mengejar gelar lain supaya tidak perlu pulang ke rumah. Saya diliputi rasa bersalah dan bingung harus bagaimana menghadapi ini tanpa melukai perasaan orang tua. Bagaimana caranya mengajak mereka berbicara dengan kepala dingin? Apakah saya anak durhaka?


Hai S.,

Kamu bukan anak durhaka hanya karena menginginkan kebebasan dari orang tua. Akan tetapi, bisa dipahami kenapa kamu merasa seperti itu.

Psikolog Jean-Pierre Van de Ven sudah beberapa kali menangani pasien yang memiliki masalah serupa. “Seringnya orang tua kesulitan melepaskan peran mereka,” ungkapnya. “Tidak ada yang salah dengan ini, tapi begitu memuncak, anak akan merasa tercekik.”

Van de Ven mengatakan pentingnya memahami apa yang membuat orang tua bersikap seperti itu. Mungkin itu hanyalah bentuk melindungi anak yang bergerak ke arah overprotektif, walau bisa juga orang tua menjadikannya alasan agar anak menjalani hidup yang tak pernah mereka miliki dulu. “Orang tua merasa seperti produk gagal, dan anak harus memperbaikinya,” tuturnya.

Dalam kasusmu, mungkin ada alasan psikologis mendasar yang lebih dalam atas perilaku orang tua. Kamu bilang masa lalu ibumu sulit dan ibu merasa tidak dianggap jika kamu menjaga jarak — secara fisik dan emosional. “Ini dapat ditelusuri kembali ke masalah keterikatan yang dialami ibu saat masih kanak-kanak,” Van de Ven menjelaskan. “Beberapa orang telah diajari untuk merasa cemas dengan hubungan mereka di usia muda, dan mereka harus selalu mengkhawatirkan penolakan yang akan datang.”

Dia berteori orang tua yang mencemaskan keterikatan di masa kecil cenderung “menjaga anak sedekat mungkin karena sangat takut ditolak. Sayangnya, ini berarti mereka jadi hipersensitif terhadap penolakan.”

Merasakan penolakan, orang tua mungkin akan menerapkan aturan dan batasan yang lebih ketat untuk anak-anak supaya mereka bisa mengusir perasaan diabaikan yang muncul pada saar mereka menjadi seorang anak. Dengan mengharapkan kamu pulang ke rumah setiap akhir pekan, ayah ibumu memperjelas bahwa mereka tidak ingin ditinggalkan olehmu. Namun, sesedih apa pun alasan di baliknya, kamu merasa tercekik oleh sikap mereka. Kamu berhak menjalani hidup sesuai keinginanmu.

Mengurangi jadwal berkunjung takkan menyelesaikan masalah. Menurut Van de Ven, cara ini justru bisa memperburuk situasi — semakin besar jarak yang kalian buat, semakin keras usaha orang tua untuk menarikmu kembali ke sisi mereka. “Kamu harus membicarakannya secara terang-terangan dengan orang tua,” dia menyarankan. “Kamu bisa memberi tahu mereka, perlakuannya telah membuatmu terpojok dan tercekik. Kamu harus berterima kasih atas semua yang telah diberikan kepadamu, tapi mereka juga perlu memahami kalau kamu sudah siap menjalani hidup sendiri. Bukan karena ingin melakukan sepenuhnya tanpa mereka, melainkan kamu harus menemukan jalanmu sendiri.”

Namun, harus diakui praktiknya tidak semudah teorinya. Belum tentu orang tua menerima kebenaran ini dengan kepala dingin. Kalian dapat meminta bantuan orang lain — entah itu saudara atau bahkan psikolog — jika tidak memungkinkan untuk mengajak mereka ngobrol baik-baik. Tenaga profesional bisa membantu jika ada faktor selain belum siap melepas anak. “Untuk beberapa orang tua, saya merekomendasikan berkonsultasi empat mata dengan psikolog apabila skenario ini tampaknya mengekspos masalah yang lebih mendalam,” ujar Van de Ven.

Bukan cuma orang tua yang akan merasakan manfaat berbicara dengan orang lain. Meskipun wajar kamu merasa bersalah, hal ini mungkin diperburuk oleh masalah mendasar juga. “Kalau memang begitu kejadiannya, kamu takkan bisa mengusir perasaan bersalah meski sudah berulang kali diperingatkan itu bukan salahmu,” lanjutnya. “Kamu telah diajari bahwa aturan orang tua jauh lebih penting daripada perasaanmu sendiri, dan karenanya kamu jadi merasa bersalah gara-gara mengutamakan diri sendiri.”

Satu hal yang perlu kamu ingat yaitu melakukan yang terbaik untuk diri sendiri tanpa perasaan bersalah tak hanya menguntungkan dirimu saja, tetapi juga bisa membantu orang tua dalam jangka panjang.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Netherlands.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *