Angan-Angan Memberi Gaji Pertama ke Orang Tua Adalah Mitos Sepanjang Masa. Pernah Begini?

  • Whatsapp

Memiliki pekerjaan yang bisa untuk bertahan hidup, syukur-syukur ada lebihnya untuk berbagai macam kebutuhan lainnya tentu menjadi impian banyak orang. Nggak heran jika masing-masing dari kita sampai susah payah untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan. Apalagi semakin ke sini persaingan kerja semakin berat, kalau nggak benar-benar mumpuni biasanya bakalan terdepak oleh orang lain.

Bacaan Lainnya

Itulah kenapa setiap kali kita diterima dalam suatu pekerjaan rasanya udah kayak berhasil melewati satu goal dalam hidup. Belum lagi kalau membayangkan gimana rasanya dapat gaji dari jerih payah sendiri, tentu ada rasa kebanggaan yang nggak akan bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kocaknya, siapa pun yang pernah melewati masa-masa jadi pekerja pemula biasanya punya angan-angan yang mulia banget, pengin ngasih duit gajian pertamanya ke orang tua. Kamu pasti sering dengar impian yang satu ini deh.

Biasanya, dulu sewaktu belum kerja atau saat awal-awal bekerja kebanyakan orang udah membayangkan kalau gaji pertamanya mau buat orang tuanya. Maklum, belum tahu gimana kerasnya dunia saat kerja :’)

Ilustrasi masuk dunia kerja / credit: Pexels Fauxels

Angan-angan mulia yang satu ini sebenarnya terdengar begitu polos dan naif. Mau gimana lagi, hampir masing-masing dari kita pasti pernah melewati fase pengin merasakan gimana rasanya balas budi kepada orang yang udah merawat kita sejak dalam kandungan. Meski kalau dipikir-pikir juga nggak sebanding sama perjuangan mereka sih, setidaknya pasti ada rasa bangga tersendiri kalau udah bisa ngasih duit gajian ke orang tua sekalipun mereka nggak minta. Jangankan pas udah masuk kerja, baru daftar kerja aja nggak jarang kita udah punya angan-angan polos yang satu ini kok.

Nggak heran juga sih, mungkin ketika dalam fase ini kita benar-benar masih nggak tahu menahu gimana kerasnya dunia saat kerja. Pokoknya yang ada di dalam pikiran mah pengin merasakan berbagi gaji pertama sama orang, itu aja~

Semakin ke sini, rupanya angan-angan tersebut kerap buyar di tengah jalan. Entah karena udah nahan makan enak sejak sebulan sebelumnya, banyak cicilan, dan lain sebagainya

Ilustrasi gaji pertama / Credit: Pexels Karolina Grabowska

Namanya juga cuma baru angan-angan, mau semulia apa pun itu tetap ada-ada aja cobaannya di tengah jalan. Nggak perlu sampai hari H saat gajian deh, biasanya beberapa hari menjelang gajian banyak dari kita yang tiba-tiba langsung berubah pikiran. Alasannya tentu aja macam-macam, mulai dari karena udah nahan pengin makan enak sejak beberapa bulan sebelumnya, banyak cicilan yang perlu dibayar, ada teman yang mendadak ngabarin mau nikah, mau lahiran, butuh beli peralatan kerja yang lebih memadai, bayar kos atau kontrakan, dan lain sebagainya.

Ujung-ujungnya mah bukan gaji pertama yang dikasih ke orang tua, melainkan permintaan maaf, hehe. Apalagi kalau kamu kerja dengan gaji standar Jogja, nggak perlu sok ide pengin bagi-bagi gaji pertama sama orang rumah deh. Masalahnya, buat bertahan sendiri aja kadang udah bikin ngos-ngosan. :’)

Beruntung banget sih buat orang-orang yang punya kesempatan berbagi gaji pertama dengan orang tua. Yakin, habis itu rezeki makin lancar deh~

Ilustrasi hubungan dengan orang tua / Credit: Pexels ANdrea Piacquadio

Karena seringnya hal ini cuma berhenti sampai di angan-angan aja, maka beruntung banget tuh buat orang-orang yang punya kesempatan untuk berbagi gaji pertama dengan orang tua atau keluarga tercinta. Meski bagi sebagian orang mungkin rasanya begitu berat, apalagi mengingat gaji pertama biasanya masih pas-pasan banget, hal yang satu ini merupakan salah satu kebangaan tersendiri bagi kaum pekerja. Nggak ada ruginya sih kalau kita berniat untuk berbagi rezeki sama orang tua, nanti pasti diganti sama yang lebih banyak.

Tapi ingat, sebelum membahagiakan orang lain, pastikan kamu bahagia terlebih dahulu. Percuma dong kalau bikin orang lain bahagia, sementara kita sendiri serba susah. Hidup sekarang udah semakin bikin kita pontang-panting, nggak perlu nambahin beban pikiran yang nggak-nggak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *