5 Fakta unik pelajaran Bahasa Jawa

  • Whatsapp
Sejumlah siswa SDN Marmoyo, mengerjakan tugas dengan berkelompok menggunakan gawai secara bergantian di rumah warga Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Foto: Antara


Opini

Trending

Mengajar mata pelajaran Bahasa Jawa yang notabenenya adalah bahasa daerah khususnya bagi mereka yang tinggal di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta merupakan satu fakta keunikan tersendiri di tengah maraknya penggunaan bahasa asing di era modern seperti sekarang. Ya, banyak anak-anak jaman sekarang yang sekedar mengenal Bahasa Jawa tetapi tidak mengerti apa maksudnya khususnya ragam kata yang berasal dari Bahasa Jawa Krama. Wajar saja jika demikian adanya karena dalam kehidupan sehari-hari pun mereka lebih sering menggunakan basa Jawa Ngoko atau Bahasa Indonesia bahkan bahasa asing seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin.

Lalu seperti apa fakta-fakta tentang pelajaran Bahasa Jawa ini? Apakah benar jika bahasa daerah yang satu ini hampir punah? Yuk kita lihat fakta-faktanya.

Pertama, Bahasa Jawa tetap eksis karena menjadi muatan lokal wajib di Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jadi, tiap jenjang pendidikan di ketiga provinsi tersebut harus mengalokasikan setidaknya 2 jam pelajaran tiap minggunya untuk pelajaran Bahasa Jawa di sekolah.

Kedua, Bahasa Jawa memiliki ciri khas kesantunan tersendiri karena dalam menuturkannya harus memahami beberapa tingkatan kata seperti ngoko, ngoko alus, krama, dan krama alus. Ketika kita berbicara kepada orang yang lebih tua harus menggunakan ragam krama karena dianggap lebih sopan dan menghormati beliau yang memang usianya lebih tua di atas kita. 

Ketika dengan teman sejawat kita bisa menggunakan ragam ngoko agar lebih santai dan tidak kaku. Dengan orang yang memiliki jabatan yang lebih tinggi pun kita harus menggunakan ragam krama. Orang tua terhadap anak bisa menggunakan ngoko, tetapi anak ketika berbicara kepada orang tua harus menggunakan krama

Ilustrasi belajar bahasa Jawa. Banyak fakta menarik dari pelajaran Bahasa Jawa. Foto: Organisasi.co.id

Jadi, meskipun dunia telah berubah menjadi sangat modern, orang-orang Jawa khususnya tetap menggunakan pedoman berbahasa seperti di atas karena seperti itulah nenek moyang mengajarkan “ngajeni” orang yang diajak berbicara dan ini tidak bisa sembarangan karena banyaknya kosa kata yang harus dihafalkan. Karena itulah pelajaran Bahasa Jawa hadir sebagai jembatan bagi anak generasi digital agar bisa nyambung ketika berbicara kepada orang tua, senior, pejabat yang memang harus dihormati. Selain itu, pelajaran Bahasa Jawa ini hadir sebagai jalan agar penutur Bahasa Jawa tidak punah dan tetap eksis hingga waktu yang tak terhingga.

Ketiga, fakta lain, dalam pelajaran Bahasa Jawa siswa tak hanya diajarkan keterampilan berbahasa tetapi juga diajarkan berbagai macam ragam adat budaya yang ada di tanah Jawa seperti mantenan (pernikahan), upacara lairan (kelahiran), mitoni (upacara tujuh bulanan), ngupati (upacara empat bulanan), tedhak siti (upacara ketika bayi berusia sekitar tujuh bulan untuk menginjakkan kaki ke tanah pertama kali) dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar siswa tetap mengenal adat budayanya sendiri dan bisa turut serta melestarikannya agar adat budaya Jawa tidak punah di tengah gesekan arus globalisasi.

Keempat, di dalam pelajaran Bahasa Jawa ada materi tembang macapat yang menggambarkan tentang siklus kehidupan manusia dari dalam perut ibu (Maskumambang), lahir (Mijil), masa muda (Sinom), masa pembentukan jati diri (Kinanthi), masa mengenal cinta pada lawan jenis (Asmaradhana), mulai berkomitmen setia dalam janji suci (Gambuh), menikah (Dhandhanggula), ketika sudah mapan harus berderma/sedekah (Durma), menjauhi segala hal yang tidak berguna (Pangkur), hingga mengalami kematian (Megatruh), dan yang tertinggal hanya jasad terbungkus kain putih (Pocung). Jadi, siswa mampu untuk selalu mawas diri dan menjaga perilakunya agar tetap berada dalam koridor norma yang ada hingga mereka dewasa nanti.

Kelima, di dalam pelajaran Bahasa Jawa ada materi tentang aksara Jawa yaitu aksara peninggalan Prabu Ajisaka untuk mengenang dua ajudannya yang begitu setia namun harus berseteru dan berakhir dengan kematian karena kesetiaannya. 

Sebelum Ajisaka pergi, seorang ajudan tersebut diberi pesan agar jangan memberikan keris pusaka miliknya pada siapapun. Lalu, ketika keris itu diperlukan, Ajisaka mengutus ajudan yang satunya untuk mengambil keris pusaka miliknya. 

Kurnia Aji Nuryani, S. Pd., Guru Bahasa Jawa SMP IT Al Ma’ruf Mranggen, Demak

Akhirnya terjadilah tragedi mengenaskan tersebut. Huruf aksara Jawa terdiri dari dua puluh huruf yaitu:

Ha Na Ca Ra Ka (ada utusan)

Da Ta Sa Wa La (berselisih paham lalu berkelahi)

Pa Da Ja Ya Nya (sama hebatnya)

Ma Ga Ba Tha Nga (keduanya meninggal)

Jika dilihat dari materi-materi yang ada di dalamnya, sepertinya Bahasa Jawa memang terkesan sulit apalagi mengajarkannya pada anak-anak jaman sekarang yang berjiwa modern, dibutuhkan banyak strategi dan media yang menarik agar materi-materi yang ada di sana bisa tersampaikan. Namun, menguasai Bahasa Jawa akan menjadi satu kebanggaan tersendiri karena Bahasa Jawa merupakan jati diri bagi orang Jawa itu sendiri. Demikian lima fakta unik tentang pelajaran Bahasa Jawa, semoga bermanfaat.*


Kurnia Aji Nuryani, S. Pd.,

Guru Bahasa Jawa SMP IT Al Ma’ruf Mranggen, Demak


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *