20 Tahun Tragedi 9/11, AS Habis-habisan tapi Agfanistan Jatuh

  • Whatsapp

Jakarta, Sentra Berita Indonesia – Amerika menghabiskan dana perang dan pembangunan di Afghanistan sebanyak US$ 290 juta setiap hari selama 20 tahun. Hal ini terungkap menurut laporan Brown University ‘Cost of War’ seperti dilansir oleh Sentra Berita International, Sabtu (11/9/2021).

Namun hanya butuh 9 hari Taliban merebut setiap ibu kota provinsi, membubarkan tentara dan menggulingkan pemerintah yang didukung oleh AS pada Agustus lalu.

Namun ketika pejuang Taliban merebut Kabul tanpa melepaskan satu tembakan pun, Presiden Joe Biden menyalahkan warga Afghanistan karena gagal mempertahankan negara mereka.

“Para pemimpin politik Afghanistan menyerah dan melarikan diri dari negara itu,” kata Biden pada (16/8/2021) lalu.

“Militer Afghanistan menyerah, tanpa adanya perlawanan,” tambahnya.

Sentra Berita International menyebut ini adalah kesalahan Amerika dalam perang yang dimulai ketika tentara AS menginvasi Afghanistan untuk membalas dendam terhadap al-Qaeda atas serangan teroris yang menewaskan 2.977 orang pada 11 September 2001.

Namun hari ini kedutaan AS di Kabul ditutup dan tentara Amerika pergi.

Tapi ratusan miliar dollar yang dihabiskan AS untuk mengorbankan perangnya di tanah Afghanistan masih dapat dilihat di seluruh negara, baik dari sisi positif hingga buruk.

Pangkalan udara terbengkalai, proyek konstruksi tidak tuntas, dan puluhan ribu senjata tidak terlacak mengotori pedesaan, semua dibeli dengan uang Amerika.

Dari pundi dollar AS juga menciptakan orang kaya di Afghanistan yang disebut ‘Jutawan 9/11’. Sekelompok kecil anak muda Afghanistan yang sangat kaya yang bergerak sebagai kontraktor untuk tantara asing.

Beberapa dari jutawan ini menjadi panutan bagi generasi baru pengusaha dan filantropi Afghanistan.

Tapi lebih banyak yang melihat hubungan keluarga mereka dengan pejabat pemerintahan atau panglima perang provinsi , untuk mendapatkan kontrak yang menguntungkan.

Seiring dengan waktu, kontrak pemerintah AS menjadi bahan bakar untuk sistem korupsi masal yang melanda negara itu. Hingga pada akhirnya menghancurkan demokrasinya yang rapuh.

“Titik akhir kegagalan upaya kami, bukanlah pemberontakan,” kata Duta Besar AS untuk Afghanistan Ryan Crocker pada 2016 lalu.

“itu adalah beban korupsi endemic,” tambahnya.

AS dalam pandangan Crocker memikul tanggung jawab atas sebagian besar korupsi di Afghanistan karena membanjiri negara dengan miliaran dollar, lebih banyak daripada nilai penyerapan ekonominya.

“Anda tidak bisa memasukan uang sebanyak itu ke negara dan masyarakat yang sangat rapuh, dan tidak menjadikan bahan bakar korupsi,” kata Crocker.

Crocker merupakan salah satu dari 500 pejabat yang diwawancarai oleh Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan untuk proyek internal yang disebut ‘Lessons Learned’.

[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *